BLITAR – Musim kemarau mulai membuat Pemerintah Kota Blitar bersiap menghadapi kemungkinan krisis air bersih. Meski hingga saat ini belum ada laporan warga mengalami kekurangan air, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar sudah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi.
Salah satunya dengan mengusulkan tambahan 10 unit tandon air kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tambahan tersebut dibutuhkan untuk memperkuat persediaan tandon yang saat ini dimiliki BPBD Kota Blitar, yakni sekitar 21 unit.
Kepala BPBD Kota Blitar Agus Suherli mengatakan pengajuan tambahan tandon dilakukan karena sejumlah daerah lain mulai mengalami krisis air bersih. Pemerintah daerah tidak ingin menunggu sampai kondisi serupa terjadi di Kota Blitar baru melakukan persiapan.
“Kami mengusulkan tambahan 10 unit tandon air kepada provinsi. Saat ini sejumlah daerah lain sudah mulai mengalami krisis air bersih, sehingga kami perlu memperkuat kesiapsiagaan,” ujar Agus, Rabu (12/8/2026).
BPBD Kota Blitar juga sudah memetakan wilayah yang dinilai memiliki potensi mengalami kekeringan lebih awal. Ada 15 kelurahan yang masuk dalam pemetaan tersebut.
Sejumlah tandon bahkan telah ditempatkan di beberapa wilayah yang menjadi perhatian. Di antaranya Kelurahan Ngadirejo, Sentul, Tanjungsari, Bendo, dan Bendogerit.
Meski begitu, Agus menegaskan pemetaan tersebut bukan berarti wilayah-wilayah itu sudah mengalami krisis air. Langkah tersebut dilakukan sebagai persiapan menghadapi kondisi kemarau yang berpotensi semakin panjang.
“Sejumlah kelurahan tersebut kami prediksi mengalami kekeringan lebih awal. Namun, sampai sekarang belum ada laporan mengenai krisis air bersih di masyarakat,” katanya.
Dalam skema awal, BPBD menyiapkan satu tandon untuk setiap kelurahan yang masuk dalam daftar wilayah rawan. Namun, jumlah tersebut bisa ditambah apabila dalam satu kelurahan terdapat beberapa titik yang membutuhkan pasokan air bersih.
“Setiap kelurahan kami siapkan satu tandon. Kalau ternyata ada lebih dari satu titik yang mengalami krisis air bersih, jumlah tandon akan kami tambah. Karena itu, kami mengusulkan tambahan tandon kepada provinsi,” jelas Agus.
Selain menyiapkan tempat penampungan air, BPBD Kota Blitar juga mulai memikirkan pola distribusi apabila kekeringan benar-benar terjadi. Persediaan tandon akan menjadi salah satu bagian dari sistem penyaluran air bersih kepada wilayah yang membutuhkan.
Namun, BPBD Kota Blitar masih memiliki kendala pada armada pengangkut air. Saat ini lembaga tersebut belum mempunyai truk tangki air sendiri untuk melakukan dropping air bersih.
Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, BPBD akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Pemadam Kebakaran (Damkar). Armada milik kedua instansi tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu distribusi air bersih seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kami memang belum memiliki truk tangki air. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami berkoordinasi dengan DLH dan Damkar untuk meminjam armada tangki yang digunakan untuk dropping air bersih,” ujarnya.
BPBD Kota Blitar saat ini masih menunggu tambahan tandon dari Pemprov Jawa Timur sambil memantau kondisi 15 kelurahan yang telah masuk dalam pemetaan potensi kekeringan.
















