Kediri, Kabarutama — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri terus mencari cara kreatif untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda. Salah satunya melalui lomba fotografi bertema sejarah lokal di wilayah Pare dan sekitarnya.
Proses penjurian, penilaian, sekaligus pembekalan kepada peserta digelar di Pendopo Eks Kawedanan Pare, Selasa (11/8/2026) pagi.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang mencari karya fotografi terbaik. Para peserta juga diajak mengenali berbagai jejak sejarah yang ada di lingkungan mereka, kemudian mengemasnya dalam karya visual yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
Sebanyak 30 peserta yang lolos seleksi dari sekitar 130 pendaftar mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan umum maupun pelajar di wilayah Kabupaten Kediri.
Sebelum pengumuman pemenang, peserta mendapatkan pembekalan mengenai sejarah lokal Pare dan Kediri serta teknik fotografi. Sebanyak 30 karya terbaik juga dipamerkan di area Pendopo Eks Kawedanan Pare.
Pelaksana lomba, Lala Amelinda, mengatakan pengambilan foto telah dilakukan sekitar satu bulan sebelum kegiatan penjurian. Peserta tidak hanya mengambil gambar di Kecamatan Pare, tetapi juga mengeksplorasi sejumlah titik bersejarah di wilayah eks-Distrik Pare.
“Untuk area foto-fotonya ada di beberapa wilayah. Eks-Distrik Pare itu mencakup Kecamatan Pare, Plosoklaten, Puncu, Badas dan Kepung,” kata Lala, yang merupakan Staf Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.
Menurut Lala, salah satu pertimbangan utama dalam proses seleksi adalah kesesuaian karya dengan tema sejarah lokal. Peserta juga dinilai dari narasi yang dibangun melalui foto sehingga karya tidak hanya menampilkan objek, tetapi mampu menceritakan latar sejarah di baliknya.
Salah satu fokus yang diangkat dalam lomba tersebut adalah peninggalan masa kolonial yang masih dapat ditemukan di kawasan Pare dan sekitarnya.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya untuk membuat sejarah lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
“Harapannya kegiatan ini akan menambah wawasan sejarah bagi masyarakat, khususnya di wilayah Pare dan sekitarnya. Kami mencoba membuat format baru dalam kegiatan lawatan sejarah dan jagad budaya yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara klasikal,” ujar Eko.
Menurutnya, melalui pendekatan fotografi, peserta tidak hanya mendengarkan cerita sejarah. Mereka diajak secara langsung menemukan, melihat, dan mengabadikan berbagai jejak sejarah yang ada di lingkungan sekitar.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya melokalkan sejarah. Eko menilai banyak cerita sejarah di tingkat lokal yang belum diketahui masyarakat secara luas, meskipun memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah yang lebih besar.
Kawasan Pare dan sekitarnya dipilih karena memiliki sejumlah peninggalan yang berkaitan dengan perkembangan industri pada masa kolonial. Setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria 1870, aktivitas industri berkembang, termasuk industri gula, perkeretaapian, serta pembangunan sejumlah fasilitas umum.
Jejak perkembangan tersebut masih dapat ditemukan hingga kini. Di antaranya bekas stasiun, bekas pabrik gula di wilayah Badas, serta sejumlah bangunan peninggalan kolonial di kawasan Tulungrejo dan sekitarnya, termasuk rumah sakit.
“Kalau kita bicara sejarah, sebenarnya setiap wilayah di Kediri memiliki sejarah. Karena itu kami mencoba melokalkan sejarah sesuai dengan wilayahnya,” jelas Eko.
Ia menambahkan, konsep tersebut tidak akan berhenti di wilayah Pare. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri berencana mengembangkan kegiatan serupa di wilayah lain yang memiliki potensi sejarah lokal.
Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan dapat dikembangkan di kawasan eks-Karesidenan lainnya, termasuk wilayah Papar, dengan menyesuaikan potensi sejarah yang dimiliki masing-masing daerah.
Eko menilai setiap wilayah memiliki cerita dan peninggalan yang layak dilestarikan sekaligus dikenalkan kepada generasi muda. Karena itu, sejarah perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi saat ini.
Fotografi, video pendek, dan media sosial dinilai dapat menjadi sarana untuk menceritakan kembali sejarah secara kreatif. Dengan memanfaatkan gawai yang dimiliki, generasi muda dapat ikut mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan sejarah di lingkungan mereka.
“Jadi kami mencoba mendekatkan sejarah dengan kesenangan mereka. Dunia digital adalah sebuah percayaan, sehingga kami mengajak generasi muda memanfaatkan gawai yang mereka punya untuk berekspresi dengan latar belakang sejarah,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, sejarah diharapkan tidak hanya menjadi materi yang dipelajari secara klasikal. Cerita tentang bangunan, kawasan, tokoh, maupun peristiwa masa lalu dapat dikemas menjadi konten kreatif yang lebih mudah diterima dan dibagikan.
Dalam kegiatan yang berlangsung Selasa itu, panitia juga mengumumkan 10 peserta terbaik sekaligus para juara lomba fotografi sejarah lokal.
“Selain memamerkan 30 karya terbaik, hari ini pengumuman 10 besar serta juaranya,” tandas Lala.
Pemkab Kediri berharap kegiatan tersebut dapat dilanjutkan melalui pembinaan dan pengembangan kegiatan serupa. Konsep melokalkan sejarah juga diharapkan dapat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun-tahun mendatang.














