BLITAR – Kebijakan pembukaan kawasan Wisata Makam Bung Karno (MBK) di Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar, selama 24 jam penuh menuai beragam respons dari para pelaku usaha dan pedagang setempat. Menanggapi dinamisnya dampak dari aturan baru tersebut, Pemerintah Kota Blitar menggelar pertemuan khusus bersama puluhan pedagang kawasan MBK.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin atau yang akrab disapa Mas Ibin menyampaikan permohonan maaf secara terbuka terkait minimnya sosialisasi awal mengenai skema operasional 24 jam ini.
“Ya, tentunya MBK 24 jam ini kan juga hal yang baru, jadi banyak yang kaget. Saya atas nama pemerintah, mungkin ya karena kurang sosialisasi, mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada banyak pihak yang agak kaget dengan tiba-tiba dibuka 24 jam,” ujar Mas Ibin usai menemui para pedagang.
Dampak Ekonomi dan Evaluasi Data Pengunjung
Menurut Mas Ibin, dampak penyesuaian operasional paling kentara dirasakan oleh penyedia jasa penginapan (homestay) hingga UMKM yang berlokasi tepat di area belakang makam. Sebagian pedagang sempat khawatir terjadinya penurunan omzet akibat perubahan jam pemandangan peziarah atau pergeseran waktu berkunjung.
Berdasarkan data grafik evaluasi pada setengah bulan pertama bulan Agustus, tercatat kunjungan pada malam hari mencapai sekitar 2.000 peziarah, sementara kunjungan siang hari masih mendominasi dengan angka 18.000 wisatawan.
“Memang belum terlalu signifikan untuk kunjungan malam. Tapi ada kekhawatiran dari pedagang siang jika peziarah beralih ke malam atau sebaliknya. Termasuk kekhawatiran dampak pada homestay. Saya kira itu wajar karena ini pola baru,” jelasnya.
Solusi Pembagian Jam Kerja Pedagang
Guna menjamin keadilan dan peluang rezeki bagi semua pihak, Pemkot Blitar menawarkan skema penataan ulang (pembagian shift) operasional bagi para pedagang.
“Solusinya kita bagi. Pedagang tidak perlu buka penuh 24 jam, tapi dibagi. Misalkan malam 10% atau 20% yang buka, begitu juga siang. Apakah nanti yang muda-muda yang buka malam, atau digilir dan diundi. Jadi harus ada yang mengalah buka malam dan siang agar potensi peziarah tidak terlepas,” ungkap Mas Ibin.
Terkait akses alur peziarah pada malam hari, Pemkot Blitar menegaskan bahwa jika pedagang di area belakang siap buka, maka jalur keluar-masuk peziarah tetap akan diarahkan melewati area pasar belakang. Namun, untuk sementara waktu peziarah diarahkan balik lewat jalur depan sembari menunggu persiapan dan perapian dari para pedagang.
Mas Ibin berkeyakinan bahwa seiring berjalannya waktu dan setelah masyarakat serta pedagang terbiasa dengan pola baru ini, dampak ekonomi positif akan betul-betul dirasakan oleh seluruh pelaku usaha di Kota Blitar.
















