BLITAR – Polres Blitar Kota memulai program bedah rumah tidak layak huni milik warga di Dusun Dayu, RT 02/RW 04, Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Selasa (30/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
Prosesi diawali dengan pembukaan, sambutan, doa bersama, dan peletakan batu pertama sebagai simbol dimulainya pembangunan rumah.
Kapolres Blitar Kota, AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo, mengatakan program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat untuk membantu warga yang membutuhkan.
“Polres Blitar Kota bekerja sama dengan pemerintah terkait dan warga Desa Dayu melaksanakan kegiatan bakti sosial perbaikan rumah ini. Semoga masyarakat yang menerima manfaat benar-benar bisa merasakan kebaikan yang kami lakukan,” ujar Kalfaris.
Ia menjelaskan, Hari Bhayangkara tahun ini mengusung tema “Bhayangkara untuk Masyarakat”, sehingga berbagai kegiatan yang diselenggarakan difokuskan untuk memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di wilayah hukum Polres Blitar Kota.
“Semua kegiatan yang kami lakukan diharapkan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.
Rumah yang menjadi sasaran program bedah rumah kali ini merupakan milik Djarno, warga Desa Dayu. Meski baru satu rumah yang diperbaiki melalui program tersebut, Kalfaris menyebut Polres Blitar Kota telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial sepanjang peringatan Hari Bhayangkara.
Menurut dia, rangkaian kegiatan itu meliputi bakti kesehatan, bakti sosial bertema Indonesia Asri, kegiatan olahraga, hingga pembangunan jembatan di wilayah Monodadi.
Peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Kapolres Blitar Kota dan disaksikan Wakapolres, Kepala Bidang Pengembangan Kawasan Permukiman, pejabat utama Polres Blitar Kota, unsur Muspika Kecamatan Nglegok, Kepala Desa Dayu, serta personel kepolisian.
Usai seremoni, kegiatan dilanjutkan dengan pembongkaran bagian rumah yang telah rusak. Proses tersebut dikerjakan secara gotong royong oleh personel Polri, warga setempat, dan tukang pelaksana sebelum pembangunan rumah dilakukan hingga selesai.














