Malang, kabarutama.co– Tim peneliti fotonik Program Studi Magister Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan inovasi sensor mikroplastik berbasis serat optik sebagai solusi deteksi dini pencemaran air. Penelitian ini menjadi respons atas meningkatnya temuan mikroplastik pada air hujan di sejumlah kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Malang.
Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh manusia diketahui berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi jaringan hingga meningkatkan risiko penyakit serius. Karena itu, pengembangan teknologi deteksi yang cepat, akurat, dan ramah lingkungan menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas sumber daya air.
Penelitian yang berlangsung sejak April hingga November 2026 ini memanfaatkan teknologi serat optik yang dipadukan dengan nanopartikel trimetalik, yakni emas (AuNPs), perak (AgNPs), dan palladium (PdNPs). Seluruh proses eksperimen dilakukan di Laboratorium Fotonik Universitas Negeri Malang dan Departemen Kimia Universiti Sains Malaysia (USM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nanopartikel tersebut mampu meningkatkan sensitivitas dan stabilitas sensor dibandingkan sensor serat optik konvensional. Teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam air secara lebih efektif, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun instansi pengelola kualitas air.
Selain menghasilkan inovasi teknologi, penelitian ini juga memperkuat jejaring kolaborasi internasional melalui kerja sama dengan Assoc. Prof. Dr. Mundzir Abdullah dari Malaysia. Riset tersebut mendapat dukungan hibah internal Universitas Negeri Malang melalui skema tesis tahun 2026 sebagai bentuk komitmen dalam pengembangan penelitian berkelas dunia.

Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui peningkatan kualitas air, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi riset lintas negara.
Meski demikian, tim peneliti masih menghadapi tantangan terkait stabilitas nanopartikel untuk penggunaan jangka panjang. Ke depan, penelitian akan difokuskan pada pengembangan lapisan pelindung (coating) pada serat optik dan komersialisasi perangkat deteksi portabel agar dapat digunakan secara luas oleh pemerintah maupun pengelola sumber daya air.
PIC Penelitian, Siti Azimatul Luthfiyyah, mengatakan pengembangan sensor mikroplastik berbasis serat optik merupakan salah satu kontribusi nyata tim peneliti Fisika UM dalam menjaga kualitas air.
“Berawal dari temuan kandungan mikroplastik di perairan bahkan air hujan di berbagai daerah, kami mengembangkan metode deteksi yang ramah lingkungan dengan menggandeng peneliti dari Malaysia. Harapannya, teknologi ini mampu menghasilkan sistem deteksi mikroplastik yang efektif tanpa mengganggu ekosistem sekitar,” ujarnya.















