Jumat, September 25, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Gaya Hidup

Tak Disangka, Nanas di Tangan Pria 66 Tahun Ini di Sulap Jadi Keripik Bernilai Jual

redaksi by redaksi
25/09/2026
in Gaya Hidup
0

Kediri, Kabarutama – Nanas selama ini identik sebagai buah segar. Namun, di tangan Suradi (66), buah tersebut diolah menjadi keripik renyah yang justru memiliki nilai jual dan permintaan cukup tinggi.

Baca Juga :

Bukan Dikukus, Kue Lumpur Bakar di Pare Ini Punya Aroma Smoky, Sekali Coba Bikin Ketagihan

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

Dari rumah produksinya di Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Suradi mengembangkan usaha keripik buah bernama Nugraha Jaya.

Usaha yang dirintis sejak 2018 itu awalnya hanya memproduksi keripik singkong dengan peralatan sederhana. Seluruh proses dikerjakan secara manual.

Seiring permintaan meningkat, cara tersebut membuat kapasitas produksi sulit berkembang. Suradi kemudian beralih menggunakan mesin yang lebih otomatis untuk membantu proses penggorengan.

“Awalnya memang dari keripik singkong, sebenarnya pakai manual. Tapi begitu perkembangan, sulit sekali kalau manual. Akhirnya saya beralih mencari mesin yang agak otomatis,” kata Suradi saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (24/9/2026).

Menurut Suradi, penggunaan mesin membuat proses pengolahan lebih terukur. Suhu dan kondisi vakum dapat diatur sehingga kualitas keripik lebih mudah dipertahankan.

Dari keripik singkong, Nugraha Jaya kemudian berkembang dengan mengolah berbagai buah dan umbi. Saat ini terdapat enam produk yang telah dipasarkan, yakni keripik nanas, pisang, tape, singkong, ubi ungu, dan nangka.

Dari sejumlah varian tersebut, keripik nanas menjadi salah satu produk dengan permintaan cukup tinggi.

Setiap hari Suradi memproduksi keripik nanas untuk memenuhi pesanan. Bahan bakunya diperoleh dari pasar grosir dan kemudian dibawa ke rumah produksi.

Proses awal pengolahan masih dilakukan secara manual. Nanas dikupas dan dipotong satu per satu sebelum masuk ke tahapan berikutnya.

Ada hal menarik dalam proses tersebut. Suradi tidak membuang seluruh bagian mata nanas ketika mengupas buah.

Potongan nanas kemudian direndam menggunakan air garam. Suradi memilih garam berbutir besar dan tidak menggunakan garam beryodium. Setelah itu, nanas kembali direndam menggunakan air biasa untuk menghilangkan sisa garam.

“Kami tidak menggunakan tambahan rasa. Dari awal saya rendam dengan garam, kemudian direndam lagi dengan air biasa. Jadi rasa garamnya luntur semua,” jelasnya.

Proses tersebut dilakukan agar rasa asli nanas tetap dipertahankan. Tidak ada tambahan perasa dalam produk tersebut.

“Rasanya ori semua,” ujar Suradi.

Di balik kerenyahan keripik nanas, terdapat tantangan tersendiri. Produk tersebut memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah keripik lainnya.

Suradi mengatakan keripik nanas harus segera dikemas setelah proses penggorengan. Jika terlalu lama terkena udara, kerenyahannya dapat berkurang.

“Kalau nanas tidak segera dipacking, sekitar satu jam di udara saja sudah tidak crispy lagi,” katanya.

Karena itu, keripik nanas Nugraha Jaya dikemas menggunakan metode vakum untuk menekan kadar air di dalam kemasan.

Produk tersebut umumnya dijual dalam kemasan 50 gram dengan harga sekitar Rp13.500 per kemasan.

Produk Nugraha Jaya kini telah dipasarkan di sekitar 13 outlet di wilayah Kediri dan sekitarnya. Pemasarannya juga telah menjangkau Jombang.

Tak hanya dari sekitar Jawa Timur, Suradi juga pernah menerima permintaan dari luar Pulau Jawa.

Ia menceritakan, seorang pembeli dari Rokan Hilir, Riau, pernah datang langsung dan memborong produk Nugraha Jaya.

“Produk kami pernah diborong semuanya. Nanti kalau di sana akan membeli alat, kami akan dipanggil ke Rokan Hilir di Riau,” ungkapnya.

Permintaan biasanya meningkat pada momentum tertentu, terutama Ramadan dan menjelang Lebaran.

Bahkan, sekitar tujuh hari sebelum Lebaran, Suradi biasanya sudah tidak menerima pesanan baru. Sebab, pelanggan memesan dalam jumlah besar hingga hitungan kilogram.

Meski permintaan terus datang, Nugraha Jaya masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi.

Dalam satu kali produksi, Suradi menyebut keripik nanas yang dihasilkan sekitar 20 kemasan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang ingin dibenahi Suradi. Ia menyadari usaha yang dibangun sejak 2018 itu membutuhkan pengelolaan yang lebih tertata apabila ingin berkembang lebih besar.

Ke depan, Suradi ingin memiliki manajemen yang lebih profesional dengan pembagian tugas yang jelas antara produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha.

“Ke depan kami ingin ada satu manajer tersendiri. Kemudian struktur organisasinya tertata, baik pemasaran maupun produksi,” tuturnya.

Saat ini sebagian besar aktivitas usaha masih ditangani langsung oleh Suradi bersama orang-orang yang membantunya.

Selain meningkatkan produksi dan pemasaran, Suradi juga berusaha memanfaatkan sisa bahan produksi agar tidak terbuang.

Limbah dari proses produksi dikumpulkan dalam tong untuk kemudian diolah menjadi pupuk.

Perjalanan Nugraha Jaya menunjukkan bagaimana usaha rumahan yang bermula dari keripik singkong dapat berkembang menjadi berbagai produk olahan buah dan umbi.

Keripik nanas menjadi salah satu produk yang kini menopang perjalanan usaha tersebut, sekaligus membuka peluang bagi bahan pangan lokal untuk memiliki nilai ekonomi lebih tinggi setelah melalui proses pengolahan.

Tags: kediriKeripik NanasNanas

Related Posts

Gaya Hidup

Bukan Dikukus, Kue Lumpur Bakar di Pare Ini Punya Aroma Smoky, Sekali Coba Bikin Ketagihan

20/09/2026
Gaya Hidup

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

19/09/2026
Gaya Hidup

Modal Belajar Otodidak, Hidroponik Dimas di Kediri Kini Diburu hingga SPPG

19/09/2026
Gaya Hidup

Sosok Anggota Polres Kediri Kota yang Membangun Ruang Pengajian, Mentoring, dan Pemberdayaan UMKM

23/06/2026
Gaya Hidup

Dari Dapur Rumahan ke Pasar Nasional, UMKM Lentera Herbal Kediri Raup Omzet Rp25 Juta per Bulan

30/05/2026
Gaya Hidup

Dari Lapak 1,5 Meter, Pedagang Ayam Kediri Raup Omzet hingga Rp500 Juta per Bulan

21/04/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

ISNU Kabupaten Blitar Safari Ramadhan ke PAC ISNU Zona Barat

08/03/2025

Kurir Dibayar Rp20 Ribu per Titik, 109 Gram Sabu dan 2.000 Pil LL Disita di Tambaksari

17/02/2026

Kapolres Kediri Kota Terima Penghargaan dari Media dalam Menjaga Kamtibmas

29/06/2025

Damkar Kabupaten Kediri Evakuasi Sarang Tawon Vespa di Ngadiluwih

23/02/2026
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO