Sabtu, September 19, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Gaya Hidup

Modal Belajar Otodidak, Hidroponik Dimas di Kediri Kini Diburu hingga SPPG

redaksi by redaksi
19/09/2026
in Gaya Hidup
0

Kediri, Kabarutama – Tak punya latar belakang pendidikan pertanian bukan halangan bagi Adimas Ketut Nalendra (36) untuk terjun ke dunia hidroponik. Berawal dari lahan pertanian biasa, pria yang akrab disapa Dimas itu kini mampu mengembangkan bisnis selada hidroponik hingga menghasilkan puluhan juta rupiah dalam sebulan.

Baca Juga :

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

Sosok Anggota Polres Kediri Kota yang Membangun Ruang Pengajian, Mentoring, dan Pemberdayaan UMKM

Usaha tersebut dijalankan Dimas di sejumlah titik lahan hidroponik di Dusun Tegalsari, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Menariknya, perjalanan Dimas di dunia hidroponik bermula dari proses belajar secara otodidak. Ia mempelajari teknik budidaya hidroponik secara mandiri dan bergabung dengan komunitas penghobi hidroponik untuk menambah pengetahuan.

Sebelum beralih ke hidroponik, lahan yang dikelolanya sempat digunakan untuk menanam berbagai komoditas, mulai jagung, kacang tanah, sawi hingga melon.

Namun, hasil dari pertanian konvensional dinilai belum mampu memberikan keuntungan yang cukup untuk menopang kebutuhan tenaga kerja.

“Hasilnya masih belum bisa untuk menghidupi pegawainya,” kata Dimas, Jumat (18/9/2026).

Kondisi itu membuat Dimas mulai memutar strategi. Ia kemudian memilih hidroponik karena produksi sayuran dapat direncanakan dengan lebih terukur dan memiliki target panen setiap pekan.

Salah satu lahannya berukuran sekitar 10 x 20 meter. Sebagian lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam melon kemudian dialihkan menjadi area budidaya sayuran hidroponik.

Untuk sayuran, Dimas menargetkan produksi sekitar 100 kilogram setiap pekan dari lahan di Tegalsari. Sementara tanaman buah memiliki siklus panen sekitar satu bulan sekali.

Menurut pengalaman Dimas, penggunaan sistem hidroponik juga membuat produktivitas lahan meningkat.

“Kalau di lahan biasa dengan hidroponik itu hasilnya bisa lima sampai enam kali lipat dari yang biasanya,” ucap pria yang kini bekerja sebagai pegawai di Kementerian Pendidikan wilayah Blitar tersebut.

Namun, peningkatan produktivitas itu membutuhkan modal awal yang tidak sedikit. Dimas harus mengeluarkan investasi untuk membangun instalasi hidroponik serta menyiapkan berbagai kebutuhan produksi.

Seiring usaha berjalan, ia mulai menemukan pasar yang sesuai dengan karakter produknya.

Sayuran hidroponik yang dihasilkan dinilai memiliki nilai tambah dari sisi kebersihan dan kesegaran. Dengan penyimpanan di dalam pendingin, sayuran produksinya disebut dapat bertahan hingga sekitar satu minggu.

“Kalau kita bisa tahan sayur biasanya sampai satu minggu kalau di dalam cooler. Kalau tidak di dalam cooler atau di suhu ruang biasanya sampai tiga sampai empat hari,” jelas warga asal Desa Badas tersebut.

Pasar awal Dimas berasal dari pelaku usaha kuliner. Kebab, gado-gado dan berbagai usaha makanan menjadi pelanggan yang membutuhkan pasokan sayuran bersih dan segar.

Belakangan, pasar tersebut semakin melebar. Permintaan juga datang dari SPPG dengan kebutuhan pasokan yang lebih besar.

Jika sebelumnya permintaan dari pelaku usaha kuliner berada di kisaran 50 kilogram per minggu, permintaan dari SPPG dapat mencapai sekitar 200 kilogram per minggu.

Peningkatan permintaan itu membuat Dimas harus menyesuaikan kapasitas produksi dengan kebutuhan pasar.

Dari sisi pendapatan, hasil usaha hidroponik yang dikelolanya sangat bergantung pada harga dan kondisi pasar. Saat harga sayuran turun, dua petak lahan yang dikelolanya masih dapat menghasilkan sekitar Rp10 juta-Rp12 juta per bulan setelah dikurangi sejumlah biaya, di luar tenaga kerja.

Namun ketika permintaan tinggi dan produksi mendukung, penghasilannya bisa melonjak.

Setelah Lebaran, misalnya, Dimas pernah mencatat produksi sekitar 500 kilogram sayuran dalam satu minggu. Pada periode tersebut, pendapatan bulanan usaha hidroponiknya disebut pernah mencapai sekitar Rp30 juta, dengan jumlah tenaga kerja yang sama.

Meski peluangnya besar, Dimas tidak memilih ikut perang harga ketika harga sayuran konvensional turun.

Ia justru memilih mengurangi produksi dan mempertahankan konsumen yang sudah menjadi pelanggan.

“Kalau kita mau perang harga, kita akhirnya yang kalah. Kita hanya mencari konsumen-konsumen yang loyal,” tuturnya.

Menurutnya, produk hidroponik memang tidak selalu dapat bersaing dari sisi harga dengan sayuran hasil pertanian konvensional.

Petani konvensional memiliki lahan yang lebih luas sehingga pada musim tertentu mampu menghasilkan sayuran dalam jumlah besar dan menjualnya dengan harga lebih rendah.

Karena itu, Dimas memilih menawarkan nilai tambah lain berupa kebersihan, kesegaran dan kualitas produk.

Strategi tersebut menjadi cara Dimas mempertahankan pasar ketika harga sayuran mengalami fluktuasi.

Di balik peluang bisnis tersebut, hidroponik juga memiliki tantangan tersendiri.

Budidaya hidroponik membutuhkan pemantauan dan perawatan hampir setiap hari. Kebutuhan tenaga kerja pun menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan ketika kapasitas produksi diperbesar.

Cuaca juga ikut memengaruhi produksi. Perubahan pola hujan yang tidak menentu dapat memengaruhi kondisi tanaman dan memicu kembali munculnya hama.

“Walaupun serangan hama dulu sudah minim, cuaca juga memengaruhi. Sekarang hujan sudah tidak terjadwal seperti dulu, itu juga memicu kembalinya hama,” katanya.

Selain produksi, Dimas juga harus terus belajar mengelola bisnis. Baginya, mengelola satu atau dua instalasi hidroponik berbeda dengan mengembangkan usaha dalam skala lebih besar.

Manajemen tenaga kerja, efisiensi pupuk hingga kesinambungan produksi menjadi hal yang harus diperhitungkan.

Apalagi, pelaku usaha hidroponik tidak mendapatkan pupuk bersubsidi seperti yang tersedia bagi sebagian petani konvensional. Harga pupuk hidroponik juga dapat berubah sehingga efisiensi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Bagi Dimas, hidroponik bukan sekadar perubahan metode bercocok tanam. Ia melihatnya sebagai upaya mencari model pertanian yang mampu menghasilkan secara lebih terukur sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Dari belajar secara otodidak, berpindah dari tanaman konvensional ke hidroponik, menghadapi fluktuasi harga hingga membangun pasar sendiri, Dimas kini terus mengembangkan usahanya.

Saat ini, beberapa titik lahan hidroponiknya ditanami selada dan melon. Ke depan, ia berencana mengembangkan varietas lain sekaligus mempertimbangkan pembukaan lahan baru.

Tags: Belajar OtodidakDimasHidroponikkediri

Related Posts

Gaya Hidup

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

19/09/2026
Gaya Hidup

Sosok Anggota Polres Kediri Kota yang Membangun Ruang Pengajian, Mentoring, dan Pemberdayaan UMKM

23/06/2026
Gaya Hidup

Dari Dapur Rumahan ke Pasar Nasional, UMKM Lentera Herbal Kediri Raup Omzet Rp25 Juta per Bulan

30/05/2026
Gaya Hidup

Dari Lapak 1,5 Meter, Pedagang Ayam Kediri Raup Omzet hingga Rp500 Juta per Bulan

21/04/2026
Gaya Hidup

Nenek 104 Tahun Asal Kediri Berangkat Haji 2026, Hasil Menabung dari Jualan Jenang Puluhan Tahun

07/04/2026
Gaya Hidup

Ledakan Pembeli Momentum Lebaran, Omzet Tahu Kediri Melejit Hingga 3 Kali Lipat

26/03/2026
Next Post

Prabowo dan Wakil PM Malaysia Bahas Penguatan Kerja Sama Penanganan Karhutla

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

Edarkan Sabu Hampir 19 Gram, Buruh Serabutan di Kediri Diciduk Polisi

04/03/2026

Ekonomi Global Melambat, Bank Indonesia Kediri Ajak Media Jaga Optimisme

15/04/2026

Respon Keluhan Warga Soal Bahan Bakar, Polres Kediri Kota Sidak Sejumlah SPBU

29/10/2025

Peringati Maulid dan HUT RI ke-80, Warga Trate Dawung Gelar Kirab Gunungan Sayuran

07/09/2025
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO