Kediri, kabarutama – Sosok Aipda Firman Wahyu Tama dikenal sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang tegas sekaligus humanis. Sebagai anggota di Polres Kediri Kota, Divisi SiPropam ia berupaya menghadirkan wadah bagi masyarakat untuk berkembang melalui kegiatan keagamaan, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan generasi muda.
Menurut Firman, kegiatan yang dijalankan berawal dari keprihatinannya terhadap banyaknya masyarakat yang belum tersentuh pembinaan keagamaan maupun pengembangan diri. Ia melihat bahwa masyarakat tidak bisa hanya menunggu datang ke pengajian, tetapi perlu dirangkul dan didatangi secara langsung.
“Banyak warga yang membutuhkan pendampingan, terutama anak-anak muda. Karena itu kami berusaha turun ke masyarakat dan menyediakan ruang yang bisa menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan berkembang bersama,” ujarnya.
Setiap hari Senin, Firman bersama sejumlah tokoh agama dan pengusaha menggelar kegiatan halaqah yang terbuka untuk berbagai kalangan, mulai dari remaja, generasi Z, pekerja, buruh, pengusaha, hingga pensiunan TNI dan Polri.
Kegiatan tersebut tidak hanya berisi kajian keagamaan, tetapi juga diskusi sosial, pembinaan karakter, hingga pengembangan usaha. Salah satu program yang telah berjalan hampir empat tahun adalah pengajian bersama Kevin melalui majelis bernama Jaringan Ngaji Keluarga.
Selain itu, terdapat pula program halaqah yang baru berjalan beberapa bulan bersama Ahmad Junaidi dengan nama Halaqah Semesta Muhammad.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang profesi dan usia, menciptakan suasana kebersamaan yang inklusif tanpa membedakan status sosial.
Yang membedakan kegiatan ini dengan pengajian pada umumnya adalah adanya sesi mentoring dan edukasi sebelum kajian dimulai. Materi yang diberikan meliputi penguatan akhlak, pengembangan usaha, hingga solusi terhadap persoalan ekonomi masyarakat.
“Setelah ngaji, kami tidak langsung pulang. Ada diskusi bisnis, mentoring usaha, berbagi pengalaman, bahkan makan bersama. Jadi ada sedekah ilmu dan sedekah kepedulian,” kata Firman.
Ia menilai banyak masyarakat yang memiliki keinginan untuk berwirausaha namun tidak memiliki wadah dan akses pembelajaran yang memadai. Karena itu, komunitas ini berusaha menjadi tempat bertumbuh bagi siapa saja yang ingin belajar.
Selain kegiatan keagamaan, Firman juga aktif mendorong pengembangan UMKM. Beberapa pelaku usaha binaan telah berhasil menembus pasar ekspor dengan produk makanan, furnitur, minyak kelapa, hingga arang briket dari batok kelapa.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi merupakan bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang mandiri dan produktif.
“Kami ingin anak-anak muda lebih banyak berkarya dan memiliki kegiatan positif. Dengan begitu mereka memiliki masa depan yang lebih baik dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya,” ujarnya.
Firman mengungkapkan bahwa semua kegiatan tersebut bermula dari sebuah basecamp sederhana yang sering dijadikan tempat curhat masyarakat. Berbagai persoalan disampaikan kepadanya, mulai dari masalah usaha, ekonomi keluarga, hingga persoalan hukum.
Dari situlah muncul gagasan untuk menghadirkan pendampingan yang tidak hanya menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga memperkuat mental dan spiritual masyarakat melalui bimbingan para ulama.
“Kalau hanya menyelesaikan masalah, selesai saat itu juga. Tapi setelah itu mereka mau ke mana? Karena itu perlu ada pembinaan dari sisi agama dan karakter,” jelasnya.
Bagi Firman, keberhasilan yang diraihnya dalam dunia usaha dan kehidupan tidak semata karena kemampuan pribadi, melainkan karena pertolongan Allah SWT. Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk terus berbagi dan membantu sesama.
Ia berpegang pada prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
“Meski manfaat yang diberikan kecil, tidak apa-apa. Yang penting masih bisa memberi manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Melalui kegiatan pengajian, mentoring, dan pemberdayaan UMKM, Firman berharap dapat terus berkontribusi dalam menjaga keamanan masyarakat sekaligus membangun generasi yang religius, produktif, dan berdaya saing.
















