Kediri, kabarutama – Komunitas Anthurium Kediri Raya (ANKER) sukses menggelar Latihan Bersama (Latber) Anthurium yang dirangkai dengan lelang tanaman aroid di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (19/7/2026). Kegiatan perdana tersebut diikuti sekitar 80 penghobi anthurium dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Peserta datang dari Kota dan Kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Nganjuk. Selain menjadi ajang silaturahmi, latber juga menjadi wadah untuk menguji kualitas tanaman sekaligus mempererat jejaring antarkomunitas.
Panitia membuka empat kategori perlombaan, yakni Hookeri Pink Junior (0–15 sentimeter), Hookeri Pink Senior (di atas 15 sentimeter), Hookeri Variegata All Size, dan Anthurium Mix All Size. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp1,6 juta, disertai sertifikat dan uang pembinaan.
Juara pertama pada masing-masing kategori diraih Abdul Kowim untuk Hookeri Pink Junior, Samsul Ma’arif pada Hookeri Pink Senior, M. Nur Kolik di kategori Hookeri Variegata, serta Eikfak Safawi (Ipok) pada kategori Anthurium Mix.
Setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran Rp25 ribu untuk setiap tanaman yang dilombakan. Tanaman wajib memiliki sedikitnya enam helai daun dan menggunakan topping media tanam, seperti pasir malang. Penilaian dilakukan oleh dewan juri berdasarkan tiga aspek, yaitu performa dengan bobot 30 persen, kesehatan 30 persen, dan karakter 40 persen.
Juri perlombaan, Fais, mengatakan aspek karakter menjadi penilaian tertinggi karena menunjukkan keaslian dan kestabilan sifat setiap jenis anthurium.
“Aspek karakter menjadi penilaian terbesar karena setiap jenis anthurium memiliki ciri khas yang harus tetap stabil. Misalnya pada variegata, coraknya harus konsisten sejak tanaman masih kecil hingga dewasa,” ujarnya.
Menurut Fais, peluang bisnis anthurium masih terbuka lebar seiring terus bertambahnya komunitas penghobi dan meningkatnya minat masyarakat terhadap tanaman hias.
Salah seorang peserta yang juga menjadi juara Hookeri Pink Junior, Abdul Kowim, menilai anthurium memiliki keunggulan dibandingkan beberapa tanaman hias lainnya karena perawatannya relatif mudah.
“Anthurium lebih kuat terhadap cuaca panas. Penyiraman cukup disesuaikan dengan kondisi media tanam dan suhu, umumnya dua hingga tiga hari sekali. Untuk pemupukan saya lebih banyak menggunakan kompos atau pupuk kandang,” katanya.
Abdul menambahkan anthurium kerap dijuluki sebagai “raja daun” karena memiliki bentuk daun yang tebal, kokoh, dan bernilai estetika tinggi, terutama pada jenis hookeri maupun jemani.
Sementara itu, Penasehat Komunitas Anthurium Kediri Raya, Eikfak Safawi atau Ipok, mengatakan latber ini merupakan langkah awal untuk membangun ekosistem penghobi anthurium yang lebih besar di Kediri Raya.
“Ini merupakan latber perdana. Ke depan kami ingin menggelarnya secara rutin. Apabila antusiasme terus meningkat, kami menargetkan bisa menyelenggarakan kontes anthurium tingkat nasional di Kediri pada Desember 2026,” ungkapnya.
Saat ini Komunitas Anthurium Kediri Raya memiliki lebih dari 100 anggota yang berasal dari berbagai daerah di Kediri Raya dan sekitarnya. Melalui kegiatan rutin tersebut, komunitas berharap minat masyarakat terhadap anthurium semakin meningkat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelaku usaha tanaman hias.














