Kediri, Kabarutama – Pemerintah Kabupaten Kediri menutup sementara jalur pendakian Bukit Tembelang di Kawasan Wisata Besuki, Kecamatan Mojo, mulai Sabtu (5/9/2026). Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Wilis yang merembet dari wilayah Kabupaten Nganjuk menuju hutan di Kabupaten Kediri.
Penutupan hanya diberlakukan pada jalur pendakian menuju Puncak Tembelang. Sementara itu, Kawasan Wisata Besuki secara keseluruhan masih tetap dibuka.
Kabid Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, Husni Mubarok, mengatakan penutupan dilakukan karena adanya kekhawatiran api bergerak ke arah Puncak Tembelang.
“Kalau di wilayah Mojo itu sebenarnya masih di seberangnya Puncak Tembelang. Kita antisipasi khawatir ada merembet ke arah Puncak Tembelang yang masih di wilayah kita,” kata Husni saat dikonfirmasi, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Husni, jalur pendakian akan ditutup hingga kondisi kawasan dinyatakan kondusif dan aman bagi masyarakat maupun pendaki. Belum ada batas waktu pasti terkait pembukaan kembali jalur tersebut.
“Jadi kita tutup sementara sampai batas waktu yang tidak tentu,” ujarnya.
Untuk memastikan kebijakan tersebut dipatuhi, Disparbud Kediri menyiagakan petugas di sejumlah titik. Informasi mengenai penutupan juga dipasang di depan loket Kawasan Wisata Besuki serta pintu masuk jalur pendakian.
Petugas akan berjaga untuk memberikan informasi sekaligus mencegah pengunjung yang nekat menuju Puncak Tembelang maupun Puncak Cemoro melalui jalur tersebut.
Pengumuman penutupan juga akan disebarluaskan melalui media sosial agar dapat diketahui masyarakat dan calon pendaki.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri terus memantau perkembangan karhutla yang merembet dari kawasan hutan RPH Bajulan BKPH Pace, Kabupaten Nganjuk, menuju kawasan hutan di Kabupaten Kediri.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Ariyanto mengatakan, berdasarkan pemantauan terakhir, kebakaran telah masuk ke kawasan RPH Parang BKPH Kediri KPH Kediri di Desa Joho, Kecamatan Semen.
Kebakaran diketahui merembet ke wilayah Kediri pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 05.30 WIB. Untuk titik di Petak 109 RPH Parang, api berdasarkan pemantauan terakhir telah padam.
Petak 109 tersebut memiliki luas sekitar enam hektare. Namun, BPBD belum dapat memastikan luas lahan yang terbakar karena pemantauan di lapangan masih dilakukan.
Selain Petak 109, petugas juga memantau Petak 144 RPH Kanyoran. Di lokasi itu, sebagian besar kawasan masih terbakar dengan luasan terdampak diperkirakan sekitar lima hektare.
Ariyanto mengatakan petugas berharap api dapat dipadamkan sebelum mencapai Gunung Gansang. Vegetasi yang masih hijau dan adanya aliran sungai di sekitar lokasi diharapkan dapat menghambat pergerakan api.
“Vegetasinya masih hijau, kemudian di kontur lokasi juga ada aliran sungai. Harapannya api bisa terputus di situ,” jelas Ariyanto.
Pemantauan karhutla tidak mudah dilakukan karena lokasi kebakaran berada jauh dari permukiman dan memiliki medan yang terjal.
Dari kawasan Kelir, petugas membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk mencapai Taman Kelir sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik api. Sementara untuk mencapai titik kebakaran dengan berjalan kaki, waktu tempuh bisa mencapai sekitar empat jam.
Petugas juga harus membawa perbekalan lengkap dan memahami jalur menuju lokasi.
Lebih dari 10 personel gabungan diterjunkan untuk melakukan pemantauan sekaligus mengantisipasi apabila api kembali meluas. Sejumlah petugas bahkan harus bermalam selama dua malam di kawasan hutan untuk memastikan perkembangan kebakaran tetap terpantau.
BPBD juga telah menggunakan drone untuk membantu pemantauan. Namun, upaya tersebut belum maksimal karena terkendala angin kencang dan keterbatasan daya baterai.
Terkait penyebab kebakaran, BPBD menduga karhutla dipicu aktivitas manusia. Salah satu dugaan berkaitan dengan aktivitas berburu dengan cara membakar serasah hutan maupun mencari sarang lebah madu menggunakan oncor atau obor.
Api diduga kemudian menyambar serasah kering dan menjalar ke kawasan hutan lainnya. Meski demikian, pemantauan dan koordinasi dengan Perhutani serta pihak terkait masih terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.
Masyarakat dan calon pendaki diminta mematuhi penutupan sementara jalur pendakian Bukit Tembelang demi keselamatan. Jalur tersebut akan dibuka kembali setelah kondisi dinyatakan aman dan terdapat pemberitahuan resmi dari pihak berwenang.
















