Kediri, Kabarutama – Ancaman bencana hidrometeorologi mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kediri menjelang musim hujan. Sedikitnya 14 kecamatan masuk dalam pemetaan wilayah rawan bencana, mulai dari tanah longsor, banjir, hingga angin puting beliung dan pohon tumbang.
Tak ingin kecolongan, Pemkab Kediri bersama TNI-Polri dan sejumlah instansi terkait mulai memperkuat kesiapsiagaan. Bahkan, Polres Kediri menyiagakan sekitar 500 personel untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bencana.
Pemetaan wilayah rawan tersebut disampaikan dalam apel kesiapsiagaan tanggap bencana 2026 yang digelar di Sempu Exotic Park, Kabupaten Kediri, Rabu (4/11/2026).
Berdasarkan pemetaan, potensi tanah longsor menjadi ancaman di lima kecamatan, yakni Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung, dan Kandangan.
Sementara ancaman banjir dipetakan berada di Kecamatan Plosoklaten, Pare, Badas, dan Kunjang.
Adapun potensi angin puting beliung dan pohon tumbang diwaspadai di Kecamatan Kunjang, Purwosari, Plemahan, dan Papar.
Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa mengatakan, apel kesiapsiagaan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah bersama Polres Kediri, Kodim 0809 Kediri, dan seluruh unsur terkait dalam menghadapi potensi bencana selama musim penghujan.
Menurutnya, kesiapan tidak hanya menyangkut jumlah personel, tetapi juga ketersediaan sarana dan prasarana serta kemampuan petugas dalam melakukan penanganan di lapangan.
“Forkopimda Kabupaten Kediri tentunya siap membackup apabila terjadi bencana. Kami juga sudah mempersiapkan personel, sarana, dan seluruh elemen terkait,” ujarnya.
Dewi menegaskan, setiap petugas harus memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing. Terutama dalam proses evakuasi, menentukan warga yang harus diprioritaskan untuk diselamatkan, hingga menyiapkan titik kumpul dan lokasi pengungsian.
Kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana juga diperkuat jajaran Polres Kediri. Kapolres Kediri AKBP Muhammad Wahyudin Latif menyebut sekitar 500 personel telah disiapkan untuk mendukung penanganan bencana di wilayah Kabupaten Kediri.
Personel tersebut akan bersinergi dengan BPBD, Kodim 0809 Kediri, Satpol PP, Tagana, relawan, serta unsur terkait lainnya.
Tak hanya menyiapkan personel, posko penanganan bencana juga disiapkan di sejumlah wilayah rawan. Posko tersebut akan beroperasi selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat sekaligus mempercepat koordinasi ketika bencana terjadi.
“Kami sudah menyiapkan posko-posko di wilayah rawan, baik dari Pemkab, BPBD, Kodim, maupun Polres. Semuanya disiagakan selama 24 jam,” kata Latif.
Dia menambahkan, petugas juga harus memahami skala prioritas penanganan ketika bencana terjadi. Mulai dari proses evakuasi, penentuan lokasi pengungsian, hingga memastikan keselamatan warga terdampak.
Bahkan, penanganan tidak berhenti setelah proses evakuasi selesai. Pemulihan pascabencana, termasuk kegiatan kemanusiaan dan pendampingan psikologis atau trauma healing bagi korban, turut menjadi bagian dari perhatian.
Di tengah meningkatnya potensi cuaca ekstrem, masyarakat juga diminta tidak lengah. Dewi mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras disertai angin kencang.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak saat kondisi cuaca memburuk.
Selain itu, kebersihan lingkungan harus menjadi perhatian bersama. Sampah yang menyumbat saluran air, selokan, maupun sungai perlu dibersihkan agar tidak menghambat aliran air dan memicu genangan hingga banjir.
Kebersihan lingkungan juga penting untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah.
“Mulai dari keluarga, lingkungan RT, sampai sungai-sungai di sekitar kita perlu dijaga kebersihannya. Ini harus diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Dengan pemetaan wilayah rawan, kesiapan ratusan personel, serta dukungan lintas instansi, Pemkab Kediri berharap potensi bencana selama musim penghujan dapat diantisipasi sejak awal.
Namun, kesiapsiagaan pemerintah saja tidak cukup. Kewaspadaan masyarakat dan kepedulian menjaga lingkungan menjadi bagian penting untuk menekan risiko serta meminimalkan dampak bencana.















