Kediri – Ratusan peternak sapi dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri ambil bagian dalam kontes ternak yang digelar di lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Selasa (5/5/2026). Kegiatan ini menjadi penanda bangkitnya sektor peternakan setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Kontes yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) tersebut diikuti sebanyak 134 ekor sapi. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan promosi potensi ternak lokal, khususnya sapi potong.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan kegiatan ini merupakan kontes ternak pertama yang kembali digelar sejak terakhir kali dilaksanakan pada 2019.
“Ini merupakan event kontes ternak pertama setelah Covid dan PMK, terakhir kita laksanakan tahun 2019,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan kontes ini sekaligus menjadi indikator membaiknya kondisi kesehatan ternak di Kediri. Bahkan, saat ini wilayah tersebut diklaim telah mencapai status nol kasus PMK.
“Alhamdulillah kondisi PMK saat ini sudah menurun, bahkan Kabupaten Kediri saat ini zero PMK,” imbuhnya.
Menurut Tutik, dukungan pemerintah daerah turut mendorong pemulihan sektor peternakan melalui berbagai program dan kegiatan. Kontes ternak ini diharapkan mampu memacu semangat peternak sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing ternak lokal.
Dalam kontes tersebut, panitia menyiapkan 10 kategori perlombaan. Salah satu yang menjadi fokus adalah sapi Peranakan Ongole (PO), yang merupakan plasma nutfah khas Indonesia dan masih banyak dibudidayakan di Kediri.
“Kami mengambil sapi PO karena merupakan sapi khas Indonesia yang sejak dulu dibudidayakan masyarakat, termasuk di Kabupaten Kediri yang populasinya masih cukup besar,” jelasnya.
Selain itu, terdapat kategori sapi hasil inseminasi buatan (IB) sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya peningkatan kualitas genetik. Kategori sapi ekstrem dengan bobot besar juga menjadi perhatian karena dinilai memiliki peluang pasar yang menjanjikan.
“Ini sekaligus memberikan peluang pasar ke depan, terutama bagi daerah yang membutuhkan sapi dengan bobot tinggi,” tambahnya.
Salah satu peserta, Jamiin, peternak asal Desa Kedak, Kecamatan Semen, mengaku membawa tiga ekor sapi PO dalam kontes tersebut. Ia menyebut tidak melakukan persiapan khusus selain perawatan rutin dan pemberian pakan yang optimal.
“Tidak ada persiapan khusus, hanya perawatan dan pakan yang kita siapkan dengan baik,” katanya.
Ia berharap, melalui kontes ini, nilai jual sapi lokal, khususnya jenis PO, dapat meningkat di pasaran.
“Mudah-mudahan dengan adanya lomba ini bisa meningkatkan nilai jual sapi lokal, terutama PO di wilayah Kabupaten Kediri,” ujarnya.
















