BLITAR – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STIT Misbahudin Ahmad (STITMA) Blitar menggelar bedah buku “Nahdlatul Ulama Abad Kedua: Membaca Arah Strategis Muktamar Ke-35 dalam Meneguhkan Tradisi untuk Transformasi Peradaban” karya Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I., Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati Harlah ke-4 STITMA Blitar dan Pra-Muktamar ke-35 NU tersebut membahas arah strategis NU menuju 2050, mulai dari penguatan roadmap organisasi hingga transformasi gerakan di tingkat ranting.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Serbaguna Kampus STIT Misbahudin Ahmad Blitar menghadirkan Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I., selaku penulis buku sekaligus Ketua STITMA Blitar. Bedah buku tersebut menghadirkan Drs. KH. Habib Zunaedi, Ketua MWC NU Sanankulon sebagai pembedah, dengan Ahmad Izzuddin, M.Pd.I., M.Ag., Wakil Ketua I STITMA Blitar, bertindak sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Dr. Kholid mengatakan buku tersebut tidak hanya menjadi refleksi perjalanan satu abad NU. Lebih dari itu, buku tersebut menjadi semacam to-do list bagi NU untuk 25 tahun mendatang melalui gagasan Roadmap NU 2026-2050.
Menurutnya, Muktamar ke-35 NU perlu menghasilkan peta jalan jangka panjang agar seluruh tingkatan organisasi, mulai dari PBNU hingga ranting, memiliki arah dan visi gerakan yang sama menuju NU Digdaya 2050.
“NU harus memiliki peta jalan yang jelas. Program di tingkat pusat hingga ranting harus berada dalam satu visi dan gerakan bersama,” terang Kholid dalam diskusi tersebut.
Dr. Kholid menegaskan bahwa buku setebal 209 halaman ini bukan sekadar refleksi 1 Abad NU, melainkan “to-do list” NU untuk 25 tahun ke depan melalui Roadmap NU 2026-2050.
Benang Merah Diskusi:
- Visi Jangka Panjang – “NU Harus Punya Peta Jalan”
- Muktamar ke-35 harus melahirkan Roadmap NU 2026-2050. Tujuannya agar seluruh program, mulai dari PBNU hingga Ranting, berada dalam satu visi dan satu gerakan bersama menuju NU Digdaya 2050. Bab I.F
- Transformasi Holistik – “Menjaga Tradisi, Menjawab Zaman”
NU Abad Kedua menuntut transformasi menyeluruh. Kokoh menjaga tradisi Aswaja, sekaligus menjadi pelopor pembaruan. Untuk itu NU perlu paradigma Fiqih Peradaban untuk menjawab tantangan AI, perubahan iklim, dan geopolitik global. Bab II.B + Bab III.D - Ajakan Aksi – “Dari Muktamar ke Gerakan Kita”
Agenda strategis tidak akan bermakna jika tidak diterjemahkan ke program kerja nyata di tingkat PCNU, MWCNU, dan Ranting. Dengan berlandaskan Khittah 1926 dan nilai-nilai Aswaja, NU harus menjadi perekat bangsa dan kekuatan moral. Bab VI.A + Bab II.H
KH. Habib Zunaedi dalam bedahannya menekankan pentingnya penguatan ekonomi jam’iyah di tingkat ranting. “NU kuat di pendidikan. Sekarang saatnya kita realistis membangun Koperasi, BUMNU, dan ekosistem bisnis Nahdliyin agar kemandirian ekonomi terwujud,” tegasnya. Bab IV.A
Diskusi juga menyorot tantangan digitalisasi. Para peserta sepakat NU harus menjaga otoritas keagamaan di tengah maraknya “Ustadz TikTok” dengan melahirkan konten Aswaja yang relevan dan “keren” bagi Gen Z dan Gen Alpha. Bab III.E + III.H
Moderator menutup dengan pertanyaan reflektif: “Setelah bedah buku ini, apakah kita masih mau jadi ‘NU penonton’ atau harus berubah jadi ‘NU pelaku’ di Abad Kedua?”
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik tolak bagi warga NU Blitar khususnya Sanankulon untuk menggerakkan agenda strategis Muktamar Ke-35 dari wacana menjadi aksi nyata.
















