Kediri, Kabarutama – Nanas selama ini identik sebagai buah segar. Namun, di tangan Suradi (66), buah tersebut diolah menjadi keripik renyah yang justru memiliki nilai jual dan permintaan cukup tinggi.
Dari rumah produksinya di Dusun Kweden, Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Suradi mengembangkan usaha keripik buah bernama Nugraha Jaya.
Usaha yang dirintis sejak 2018 itu awalnya hanya memproduksi keripik singkong dengan peralatan sederhana. Seluruh proses dikerjakan secara manual.
Seiring permintaan meningkat, cara tersebut membuat kapasitas produksi sulit berkembang. Suradi kemudian beralih menggunakan mesin yang lebih otomatis untuk membantu proses penggorengan.
“Awalnya memang dari keripik singkong, sebenarnya pakai manual. Tapi begitu perkembangan, sulit sekali kalau manual. Akhirnya saya beralih mencari mesin yang agak otomatis,” kata Suradi saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (24/9/2026).
Menurut Suradi, penggunaan mesin membuat proses pengolahan lebih terukur. Suhu dan kondisi vakum dapat diatur sehingga kualitas keripik lebih mudah dipertahankan.
Dari keripik singkong, Nugraha Jaya kemudian berkembang dengan mengolah berbagai buah dan umbi. Saat ini terdapat enam produk yang telah dipasarkan, yakni keripik nanas, pisang, tape, singkong, ubi ungu, dan nangka.
Dari sejumlah varian tersebut, keripik nanas menjadi salah satu produk dengan permintaan cukup tinggi.
Setiap hari Suradi memproduksi keripik nanas untuk memenuhi pesanan. Bahan bakunya diperoleh dari pasar grosir dan kemudian dibawa ke rumah produksi.
Proses awal pengolahan masih dilakukan secara manual. Nanas dikupas dan dipotong satu per satu sebelum masuk ke tahapan berikutnya.
Ada hal menarik dalam proses tersebut. Suradi tidak membuang seluruh bagian mata nanas ketika mengupas buah.
Potongan nanas kemudian direndam menggunakan air garam. Suradi memilih garam berbutir besar dan tidak menggunakan garam beryodium. Setelah itu, nanas kembali direndam menggunakan air biasa untuk menghilangkan sisa garam.
“Kami tidak menggunakan tambahan rasa. Dari awal saya rendam dengan garam, kemudian direndam lagi dengan air biasa. Jadi rasa garamnya luntur semua,” jelasnya.
Proses tersebut dilakukan agar rasa asli nanas tetap dipertahankan. Tidak ada tambahan perasa dalam produk tersebut.
“Rasanya ori semua,” ujar Suradi.
Di balik kerenyahan keripik nanas, terdapat tantangan tersendiri. Produk tersebut memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah keripik lainnya.
Suradi mengatakan keripik nanas harus segera dikemas setelah proses penggorengan. Jika terlalu lama terkena udara, kerenyahannya dapat berkurang.
“Kalau nanas tidak segera dipacking, sekitar satu jam di udara saja sudah tidak crispy lagi,” katanya.
Karena itu, keripik nanas Nugraha Jaya dikemas menggunakan metode vakum untuk menekan kadar air di dalam kemasan.
Produk tersebut umumnya dijual dalam kemasan 50 gram dengan harga sekitar Rp13.500 per kemasan.
Produk Nugraha Jaya kini telah dipasarkan di sekitar 13 outlet di wilayah Kediri dan sekitarnya. Pemasarannya juga telah menjangkau Jombang.
Tak hanya dari sekitar Jawa Timur, Suradi juga pernah menerima permintaan dari luar Pulau Jawa.
Ia menceritakan, seorang pembeli dari Rokan Hilir, Riau, pernah datang langsung dan memborong produk Nugraha Jaya.
“Produk kami pernah diborong semuanya. Nanti kalau di sana akan membeli alat, kami akan dipanggil ke Rokan Hilir di Riau,” ungkapnya.
Permintaan biasanya meningkat pada momentum tertentu, terutama Ramadan dan menjelang Lebaran.
Bahkan, sekitar tujuh hari sebelum Lebaran, Suradi biasanya sudah tidak menerima pesanan baru. Sebab, pelanggan memesan dalam jumlah besar hingga hitungan kilogram.
Meski permintaan terus datang, Nugraha Jaya masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi.
Dalam satu kali produksi, Suradi menyebut keripik nanas yang dihasilkan sekitar 20 kemasan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang ingin dibenahi Suradi. Ia menyadari usaha yang dibangun sejak 2018 itu membutuhkan pengelolaan yang lebih tertata apabila ingin berkembang lebih besar.
Ke depan, Suradi ingin memiliki manajemen yang lebih profesional dengan pembagian tugas yang jelas antara produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha.
“Ke depan kami ingin ada satu manajer tersendiri. Kemudian struktur organisasinya tertata, baik pemasaran maupun produksi,” tuturnya.
Saat ini sebagian besar aktivitas usaha masih ditangani langsung oleh Suradi bersama orang-orang yang membantunya.
Selain meningkatkan produksi dan pemasaran, Suradi juga berusaha memanfaatkan sisa bahan produksi agar tidak terbuang.
Limbah dari proses produksi dikumpulkan dalam tong untuk kemudian diolah menjadi pupuk.
Perjalanan Nugraha Jaya menunjukkan bagaimana usaha rumahan yang bermula dari keripik singkong dapat berkembang menjadi berbagai produk olahan buah dan umbi.
Keripik nanas menjadi salah satu produk yang kini menopang perjalanan usaha tersebut, sekaligus membuka peluang bagi bahan pangan lokal untuk memiliki nilai ekonomi lebih tinggi setelah melalui proses pengolahan.














