Minggu, September 20, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Gaya Hidup

Bukan Dikukus, Kue Lumpur Bakar di Pare Ini Punya Aroma Smoky, Sekali Coba Bikin Ketagihan

redaksi by redaksi
20/09/2026
in Gaya Hidup
0

Kediri, Kabarutama – Kue lumpur biasanya dimasak menggunakan cetakan dengan panas dari bawah atau dikukus. Namun, kue lumpur bakar Nduk D’Tha di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, menawarkan cara berbeda yang membuat jajanan tradisional ini memiliki aroma khas.

Baca Juga :

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

Modal Belajar Otodidak, Hidroponik Dimas di Kediri Kini Diburu hingga SPPG

Bukan menggunakan oven, kue lumpur tersebut justru dimasak dengan arang yang diletakkan di bagian atas cetakan. Panas arang membuat permukaan kue matang perlahan sekaligus memberikan aroma asap atau smoky yang menjadi ciri khasnya.

Kue lumpur bakar Nduk D’Tha berada di Jalan PB Sudirman, Kecamatan Pare, tepatnya di kawasan timur Stadion Canda Bhirawa Pare dan di depan Swalayan Dinasti.

Usaha kuliner milik keluarga Dita tersebut telah berjalan sekitar empat tahun. Ide membuat kue lumpur bakar bermula dari kegemaran Dita berburu kuliner di berbagai daerah.

Sofia Putri, anak Dita, mengatakan ibunya kerap menghabiskan waktu untuk mencicipi beragam makanan setiap akhir pekan.

“Ibu itu suka kuliner. Setiap hari Minggu biasanya kulineran dari jam 4 pagi sampai malam jam 8,” kata Sofia saat ditemui di kedai, Sabtu (19/9/2026).

Dari kegemarannya tersebut, Dita kemudian mengenal kue lumpur bakar yang dijumpainya di Sidoarjo dan Malang. Ia lalu mencoba membuat produk serupa dengan menyesuaikan cita rasa yang dianggap cocok untuk konsumen di Pare.

Setelah melalui sejumlah percobaan resep, ditemukan komposisi berbahan dasar santan, telur, dan tepung.

Proses memasak menjadi pembeda utama kue lumpur Nduk D’Tha. Adonan cair dituangkan ke dalam cetakan, kemudian bagian atasnya ditutup menggunakan tungku berisi arang.

Tungku berbentuk bulat tersebut dibuat sendiri dan ukurannya disesuaikan dengan cetakan adonan.

Panas arang membuat bagian atas kue matang secara perlahan. Proses tersebut sekaligus menghasilkan aroma asap yang melekat pada kue.

Meski matang, bagian dalam kue tidak dibuat terlalu padat. Teksturnya tetap lembut dengan bagian tengah yang sedikit lumer.

“Kalau di sini dari adonan cair ditutup sama tungku arang jadi padat. Tapi tidak terlalu padat, masih ada lumer-lumernya,” ujar Sofia.

Kue lumpur bakar Nduk D’Tha tersedia dalam tiga varian rasa, yakni original, nangka, dan kelapa muda.

Untuk harganya, varian original dibanderol mulai Rp2.500 per buah. Sementara varian nangka dan kelapa muda dijual Rp3.000 per buah.

Pembeli yang ingin mencoba beberapa rasa sekaligus dapat memilih paket campuran seharga Rp15.000. Paket tersebut berisi enam kue, terdiri dari dua original, dua nangka, dan dua kelapa muda.

Dalam sehari, produksi kue lumpur bakar Nduk D’Tha dapat mencapai sekitar 60-80 liter adonan. Jumlah tersebut bisa menghasilkan hingga sekitar 250 paket, tergantung permintaan pelanggan.

Selama empat tahun berjualan, kue lumpur tersebut mulai memiliki pelanggan tetap. Sofia mengatakan, pada awalnya sejumlah pembeli masih harus beradaptasi dengan aroma dan karakter rasa yang dihasilkan dari pembakaran menggunakan arang.

Namun, seiring waktu, aroma smoky tersebut justru menjadi salah satu karakter yang dicari pelanggan.

“Awal-awal katanya masih mentah karena belum mengenal. Tapi sekarang sudah mantap, sudah enak,” ungkap Sofia.

Kedai berukuran sekitar 2×3 meter itu pun tetap didatangi pembeli yang silih berganti.

Salah satunya Renita, warga Kecamatan Kepung. Ia mengaku cukup sering membeli kue lumpur tersebut karena memiliki karakter yang berbeda dari kue lumpur pada umumnya.

Menurut Renita, kue lumpur bakar cocok dijadikan camilan untuk disantap bersama keluarga.

“Saya kerap membeli kue lumpur ini karena memang ini satu-satunya dan rasanya enak. Biasanya saya beli siang hari untuk dimakan bersama keluarga,” kata Renita.

Hal serupa disampaikan Ilya, warga Kepung. Ia mengetahui keberadaan kue lumpur bakar tersebut dari temannya ketika mengikuti les renang di wilayah Pare.

Ia tertarik mencoba karena proses pembuatannya menggunakan arang.

“Rasanya berbeda karena ada ciri khas bau arangnya, smoky-nya. Untuk cita rasa juga memang enak,” ujar Ilya.

Keunikan proses pembuatan menjadi salah satu daya tarik produk tersebut. Di tengah banyaknya pilihan jajanan, karakter rasa dan aroma yang berbeda dapat menjadi pembeda bagi sebuah usaha kuliner.

Selain mempertahankan keunikan proses pembakaran, konsistensi rasa juga menjadi perhatian Nduk D’Tha agar pelanggan tetap mendapatkan cita rasa yang sama setiap kali membeli.

Sofia berharap jumlah pelanggan terus bertambah tanpa menghilangkan karakter khas produk yang selama ini menjadi daya tarik.

Ia juga membuka peluang untuk mengembangkan usaha dengan menambah cabang.

“Semoga pelanggannya tetap balik lagi. Rasanya tetap meskipun nanti ada yang buka cabang. Semoga makin laris, makin ramai. Insya Allah kita mau buka cabang,” katanya.

Saat ini, kue lumpur bakar Nduk D’Tha buka setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB.

Bagi pencinta jajanan tradisional yang ingin mencoba sensasi berbeda, kue lumpur dengan aroma khas arang ini bisa menjadi salah satu pilihan saat berada di kawasan Pare.

Tags: Aroma SmokykediriKue LumpurLumpur BakarPareRoti kukus

Related Posts

Gaya Hidup

Resep Kue Pancong Kelapa, Jajanan Tradisional yang Gurih dan Legit

19/09/2026
Gaya Hidup

Modal Belajar Otodidak, Hidroponik Dimas di Kediri Kini Diburu hingga SPPG

19/09/2026
Gaya Hidup

Sosok Anggota Polres Kediri Kota yang Membangun Ruang Pengajian, Mentoring, dan Pemberdayaan UMKM

23/06/2026
Gaya Hidup

Dari Dapur Rumahan ke Pasar Nasional, UMKM Lentera Herbal Kediri Raup Omzet Rp25 Juta per Bulan

30/05/2026
Gaya Hidup

Dari Lapak 1,5 Meter, Pedagang Ayam Kediri Raup Omzet hingga Rp500 Juta per Bulan

21/04/2026
Gaya Hidup

Nenek 104 Tahun Asal Kediri Berangkat Haji 2026, Hasil Menabung dari Jualan Jenang Puluhan Tahun

07/04/2026
Next Post

Bukan Sekadar Bagi Pecel! Milad ke-7 BPD Kabupaten Kediri Soroti Hak dan Penguatan Peran BPD

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

KAI Imbau Penumpang Datang Lebih Awal, Ada Istighosah Akbar di Sekitar Stasiun Kediri

15/06/2026

Tindak Tegas Perjudian, Polres Mojokerto Bongkar Dua Arena Sabung Ayam

14/05/2025

Polres Pasuruan Tangkap Pelaku Pelempar Bom Molotov ke Pos Lantas Pandaan

05/09/2025

Tiket KA Reguler Masih Tersedia, KAI Daop 7 Madiun Imbau Masyarakat Fleksibel Pilih Tanggal Keberangkatan

09/02/2026
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO