BLITAR – IPB University membawa layanan laboratorium tanaman langsung ke tengah petani melalui program Mobil Klinik Tanaman. Safari perdana layanan tersebut digelar di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (27/8/2026).
Program ini menjadi bagian dari kegiatan Dosen Pulang Kampung dan Safari Klinik Tanaman, sekaligus upaya memberikan pendampingan kepada petani dalam menghadapi ancaman serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama di tengah potensi kemarau panjang 2026.
Pakar hama tanaman pertanian IPB University, Hermanu Tri Widodo, mengingatkan adanya potensi ledakan populasi hama tanaman, khususnya padi, apabila kemarau panjang akibat fenomena El Nino Godzilla berlangsung hingga akhir tahun.
Menurut Hermanu, kemarau panjang dapat menyebabkan telur sejumlah jenis hama menumpuk di dalam tanah. Ketika hujan turun dan kelembapan meningkat, telur-telur tersebut berpotensi menetas secara bersamaan sehingga memicu lonjakan populasi hama.
“Jika sampai akhir tahun ini tidak ada hujan, maka akan terjadi ledakan hama pada awal musim hujan nanti,” ujar Hermanu saat ditemui dalam kegiatan tersebut.
Hermanu menyebut belalang dan sundep beluk atau serangga penggerek batang padi menjadi hama yang perlu diwaspadai pada awal musim hujan.
Belalang dapat merusak tanaman dengan memakan daun hingga bulir padi muda. Sementara sundep beluk menyerang batang tanaman padi dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebagian telur hama dapat bertahan di dalam tanah selama musim kemarau dan menunggu kondisi lingkungan yang sesuai untuk menetas.
Semakin panjang musim kemarau, semakin besar peluang telur hama menumpuk. Ketika hujan turun dan kelembapan tanah meningkat, telur-telur tersebut dapat menetas dalam waktu yang relatif bersamaan.
“Begitu ada hujan, telur yang jumlahnya sudah berlipat itu menetas. Maka terjadilah ledakan hama belalang dan sundep beluk,” ungkap dosen senior Fakultas Pertanian IPB University tersebut.
Namun, petani diminta tidak melakukan penyemprotan pestisida secara berlebihan untuk mengatasi serangan hama. Penggunaan pestisida kimia secara masif dapat membunuh bukan hanya hama sasaran, tetapi juga organisme atau musuh alami yang berperan mengendalikan populasi hama.
“Karena wereng muncul karena pestisida. Semakin disemprot pestisida, semakin besar terjadinya ledakan populasi wereng,” katanya.
Hermanu menjelaskan, musuh alami memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi hama di lahan pertanian. Ketika musuh alami ikut mati akibat paparan pestisida, wereng cokelat dapat berkembang lebih cepat tanpa pengendalian biologis yang memadai.
“Karena racun pestisida mematikan musuh alami wereng. Yang bahaya itu nanti. Kalau tidak hati-hati menangani hama belalang dan sundep beluk, bisa terjadi ledakan wereng,” tambahnya.
Wereng cokelat menyerang tanaman padi dengan mengisap cairan tanaman. Jika serangan terjadi dalam skala berat, tanaman dapat mengalami kekeringan hingga mati. Serangan juga dapat menyebabkan bulir padi tidak terisi dan menghasilkan gabah yang gabuk.
Karena itu, petani dinilai perlu menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan perubahan pola musim tahun ini. Selain pengelolaan hama secara tepat petani melakukan diversifikasi tanaman pangan sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada padi.
Melalui Safari Klinik Tanaman, IPB University berupaya mendekatkan pengetahuan dan layanan diagnosis tanaman kepada petani. Kehadiran Mobil Klinik Tanaman memungkinkan persoalan tanaman di lapangan dapat diperiksa dan dikonsultasikan secara langsung.















