Blitar – Hujan yang belakangan turun di sejumlah wilayah Kabupaten Blitar saat musim kemarau tidak otomatis menjadi tanda bahwa musim hujan sudah tiba. Kondisi tersebut masih tergolong wajar karena cuaca di Jawa Timur dapat dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer maupun faktor lokal.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, menjelaskan bahwa hujan yang muncul secara episodik pada musim kemarau merupakan fenomena yang masih bisa terjadi.
“Hujan di tengah musim kemarau di Jawa Timur adalah hal yang normal, dipicu dinamika atmosfer dan faktor lokal,” kata Wahyudi.
Ia menerangkan, munculnya hujan ketika musim kemarau dapat dipengaruhi beberapa kondisi atmosfer. Di antaranya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby, konvergensi angin, sirkulasi siklonik hingga kondisi lokal di wilayah Jawa Timur.
“Untuk penyebabnya ada beberapa faktor, di antaranya Madden-Julian Oscillation atau MJO, gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby, konvergensi angin dan sirkulasi siklonik, serta faktor lokal Jawa Timur,” ujarnya.
Selain faktor atmosfer, kondisi lingkungan di tingkat lokal juga ikut berpengaruh. Pemanasan permukaan pada siang hari, kelembapan udara yang cukup tinggi serta kondisi topografi dapat membantu pertumbuhan awan konvektif.
Awan tersebut kemudian bisa berkembang menjadi awan hujan. Kondisi ini biasanya lebih memungkinkan terjadi pada sore hingga malam hari ketika terdapat cukup kandungan uap air di atmosfer.
Wahyudi mengatakan, secara umum musim kemarau di Indonesia juga dipengaruhi oleh Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering. Namun, kondisi tersebut dapat berubah sementara ketika aktivitas atmosfer tertentu membuat kandungan kelembapan meningkat.
“Ketika kelembapan meningkat, udara lembap naik dan atmosfer menjadi labil. Kondisi itu kemudian memungkinkan awan cumulonimbus berkembang dan terjadi hujan,” jelasnya.
Hujan yang muncul di tengah musim kemarau pun tidak selalu memiliki karakter yang sama. Intensitasnya bisa ringan hingga lebat. Durasi hujan juga dapat berlangsung singkat atau bertahan selama beberapa jam tergantung kondisi atmosfer saat itu.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa musim hujan telah dimulai hanya karena hujan turun satu atau dua kali. Penetapan awal musim hujan memiliki indikator tersendiri yang berkaitan dengan pola curah hujan dalam beberapa dasarian.
“Awal musim hujan belum tentu ditandai hanya dengan satu atau dua kali hujan saat musim kemarau. Penentuannya berdasarkan curah hujan dasarian atau 10 hari yang memenuhi kriteria tertentu dan diikuti kondisi pada dua dasarian berikutnya,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan informasi dalam infografis yang disampaikan BPBD, puncak musim kemarau di Jawa Timur pada 2026 diprediksi berlangsung sekitar Agustus. Periode tersebut mencakup sekitar 70,9 persen wilayah atau sebanyak 53 zona musim.
Meski hujan di tengah kemarau masih termasuk fenomena yang normal, BPBD Kabupaten Blitar tetap meminta masyarakat memperhatikan perkembangan cuaca. Hujan dengan intensitas tinggi tetap berpotensi menimbulkan berbagai bencana hidrometeorologi.
“Yang perlu diperhatikan adalah potensi hujan lebat yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi. Karena itu, masyarakat tetap perlu waspada terhadap perkembangan cuaca,” pungkas Wahyudi.















