Bangkalan, kabarutama – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menutup Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil, Bangkalan, Madura, Senin (23/6).
Prosesi penutupan ditandai dengan pemukulan kenteng atau lonceng yang terbuat dari potongan bom Belanda yang tidak meledak saat dijatuhkan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, pada masa kolonial.
Presiden memukul kenteng tersebut sebanyak sembilan kali. Angka sembilan dipilih sebagai simbol bintang sembilan dalam lambang NU sekaligus merepresentasikan Wali Songo.
“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi menutup Munas dan Konbes NU 2026. Terima kasih,” ujar Presiden yang disambut tepuk tangan sekitar 1.500 tamu undangan.
Munas dan Konbes NU 2026 merupakan forum permusyawaratan organisasi yang membahas berbagai persoalan keagamaan, kebangsaan, serta agenda strategis organisasi menjelang Muktamar NU mendatang.
Prosesi penutupan oleh Presiden melengkapi rangkaian pembukaan Munas dan Konbes NU yang sebelumnya digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada 22 Juni 2026. Saat itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar juga memukul kenteng yang sama sebanyak sembilan kali sebagai simbol pembukaan acara.
Dalam kesehariannya, kenteng tersebut masih digunakan sebagai penanda waktu salat dan kegiatan belajar santri di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.
Secara historis, pesantren tersebut pernah menjadi sasaran pengeboman oleh Belanda karena dianggap sebagai tempat bernaung para pejuang Republik Indonesia. Namun, bom-bom yang dijatuhkan tidak meledak dan kemudian dimanfaatkan menjadi kenteng yang digunakan hingga saat ini.
“Kenteng ini memberi i’tibar atau pelajaran bahwa sesuatu yang berasal dari pihak yang membenci dapat diubah menjadi manfaat yang terus dikenang para santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso,” ujar pembawa acara saat pembukaan Munas dan Konbes NU.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyebut NU sebagai salah satu pilar stabilitas bangsa yang selalu hadir ketika Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
“NU selalu tampil di saat bangsa Indonesia dalam keadaan sulit. Keluarga besar NU adalah faktor stabilisator, faktor yang dapat menjaga keamanan bangsa dan negara,” ujarnya.
Presiden juga menilai NU memiliki karakter kuat sebagai organisasi keagamaan yang menjunjung tinggi nilai nasionalisme dan patriotisme.
“Ada satu ciri khas yang sejak dahulu saya perhatikan, bahwa NU adalah organisasi keagamaan yang sangat nasionalis, sangat patriotis, dan sangat cinta tanah air. Jadi agamis, tetapi tetap nasionalis dan patriotis,” kata Presiden.
Prabowo turut menyoroti lagu Syubbanul Wathon yang menurutnya menjadi simbol kecintaan warga nahdliyin terhadap Indonesia. Ia menyebut lagu tersebut telah lahir sebelum Indonesia merdeka dan hingga kini terus dinyanyikan dalam berbagai kegiatan NU.
“Setiap acara NU yang saya hadiri, lagu Syubbanul Wathon tidak pernah digantikan,” ujarnya.
Presiden juga mengapresiasi semangat kebangsaan yang ditunjukkan warga NU saat menyanyikan lagu tersebut.
“Ketika menyanyikannya, tangannya harus mengepal. Ini luar biasa. Belum ada Kopassus saat itu, tetapi NU sudah lebih dulu menunjukkan semangat patriotisme,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta.
Pada kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada keluarga besar NU atas kontribusi dan dukungannya terhadap bangsa dan negara.
Ia optimistis NU akan terus memainkan peran strategis dalam pembangunan nasional. Menurutnya, kedekatan para kiai dan ulama dengan masyarakat, khususnya di pedesaan, menjadi kekuatan utama NU dalam memahami persoalan rakyat.
“Para kiai dan ulama adalah tokoh yang paling dekat dengan rakyat, terutama di pedesaan. Karena itu, mereka memahami dan merasakan secara langsung apa yang dihadapi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan doa dan harapan agar Presiden Prabowo senantiasa diberikan kesehatan, perlindungan, serta kemampuan menghadirkan kebijakan yang membawa kesejahteraan bagi rakyat.
“Semoga Bapak Presiden selalu sehat walafiat dan mendapat perlindungan Allah SWT. Semoga pula diberikan gagasan-gagasan cemerlang agar rakyat dan umat yang besar ini segera memperoleh apa yang mereka harapkan, sehingga negeri ini dipenuhi kemakmuran dan keadilan,” ujarnya.
Ia berharap berbagai langkah yang dijalankan pemerintah semakin memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional, antara lain Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MPR Ahmad Muzani, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Hadir pula Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, KH Said Aqil Siradj, Miftah Maulana Habiburrahman, serta sejumlah kiai dan tokoh nasional lainnya.















