Kediri, kabarutama – Malam itu, suara kenteng menggema pelan namun menggetarkan hati ribuan hadirin di kompleks Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Di tengah khidmatnya pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026, sebuah benda tua yang menyimpan jejak sejarah kembali berbicara kepada zaman.
Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, menabuh kenteng itu sembilan kali. Angka sembilan dipilih sebagai simbol bintang sembilan yang menjadi identitas Nahdlatul Ulama. Namun, lebih dari sekadar penanda dimulainya forum tertinggi organisasi, dentangan kenteng tersebut membawa pesan yang jauh lebih dalam: tentang perjuangan, keteguhan, dan kemampuan mengubah ancaman menjadi kemanfaatan.
Tak banyak yang mengetahui bahwa kenteng yang ditabuh di hadapan para ulama, tokoh bangsa, dan ribuan peserta itu berasal dari bom peninggalan masa penjajahan Belanda yang gagal meledak saat menyerang kawasan pesantren puluhan tahun silam. Bom yang semula ditujukan untuk menghancurkan, justru berakhir menjadi saksi bisu perjalanan panjang pesantren dan bangsa.
Menurut keterangan keluarga besar pesantren, Gus Salam, bom tersebut ditemukan di area belakang pondok setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945. Oleh para pengasuh pesantren, benda berbahaya itu kemudian dimodifikasi menjadi kenteng yang hingga kini digunakan sebagai penanda waktu salat berjamaah, kegiatan mengaji, dan aktivitas belajar para santri.
“Yang dahulu datang membawa ancaman, kini justru menjadi penyeru kebaikan,” demikian makna yang hidup di tengah masyarakat pesantren. Dentangan kenteng itu seolah mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu berakhir sesuai niat para pelakunya. Ada kalanya kebencian berubah menjadi pelajaran, dan serangan menjelma keberkahan.
Bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, kenteng tersebut bukan sekadar benda logam tua. Ia adalah warisan nilai, pengingat perjuangan para pendahulu, sekaligus simbol ketahanan pesantren menghadapi berbagai ujian zaman. Setiap kali suaranya terdengar, seakan ada cerita lama yang kembali hidup di antara langkah para santri dan doa-doa yang dipanjatkan.
Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Mustofa Bisri, Nasaruddin Umar, Khofifah Indar Parawansa, Emil Dardak, serta Yahya Cholil Staquf. Mereka menyaksikan langsung bagaimana sebuah artefak perjuangan menjadi penanda dimulainya forum yang akan menentukan arah perjalanan NU ke depan.
Di tengah gemerlap acara dan hiruk-pikuk agenda organisasi, dentangan kenteng bekas bom itu menyampaikan pesan yang sederhana namun abadi: bahwa kekuatan sejati bukanlah menghancurkan, melainkan mengubah luka sejarah menjadi manfaat bagi generasi yang akan datang.














