Selasa, Juni 23, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Peristiwa

RMI PBNU Perkuat Gerakan Pesantren Ramah Anak, Hasilkan Sejumlah Rekomendasi Strategis

redaksi by redaksi
22/06/2026
in Peristiwa
0

Kediri, kabarutama– Halaqah Pengasuh Pesantren yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI) PBNU bersama Lakpesdam PBNU di Pondok Pesantren Al Falah II, Kediri, pada 20–21 Juni 2026 menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pesantren.

Baca Juga :

Munas-Konbes NU 2026 Bahas Arah Kepemimpinan dan Transformasi Digital, Kiai Afif: Musyawarah Tetap Harga Mati

Dari Bom yang Gagal Meledak Menjadi Panggilan Ibadah, Kenteng Bersejarah Menggema di Pembukaan Munas-Konbes NU 2026

Forum yang diikuti pengasuh pesantren, pengurus RMI, akademisi, pegiat perlindungan anak, serta berbagai pemangku kepentingan itu menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan yang tidak hanya bertumpu pada aturan tertulis, tetapi juga didukung pendampingan berkelanjutan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi lintas lembaga.

Salah satu rekomendasi utama yang disepakati peserta adalah penguatan jejaring antar-pesantren agar penanganan kasus tidak dilakukan secara parsial oleh masing-masing lembaga. Peserta juga mendorong RMI PBNU menyediakan pelatihan khusus mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan bagi pengasuh maupun santri.

“Penanganan di pesantren itu membutuhkan spesialis, bukan hanya generalis. Karena itu kami berharap RMI dapat berkolaborasi dengan kepolisian dan pemerintah dalam memperkuat sistem advokasi dan pendampingan bagi pesantren,” ujar M. Danial, peserta halaqah dari Malang.

Selain itu, forum mendorong pembentukan layanan atau tim khusus yang menangani isu perlindungan anak dan kekerasan di lingkungan pesantren. Namun, pendekatan yang dikembangkan diharapkan lebih mengedepankan fungsi pendampingan, konseling, dan pemulihan dibandingkan pendekatan yang bersifat represif.

Gagasan pengembangan konselor sebaya juga menjadi salah satu usulan yang mendapat perhatian luas dalam diskusi. Model tersebut dinilai dapat menjadi ruang aman bagi santri untuk menyampaikan persoalan yang mereka alami sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih serius.

“Konselor sebaya bisa menjadi solusi karena banyak anak lebih nyaman bercerita kepada temannya. Karena itu perlu ada pelatihan agar santri yang menjadi konselor sebaya memiliki kemampuan mendengar dan mendampingi secara tepat,” kata Ning Jihan dari Pesantren Al-Ma’ruf Kediri.

Sementara itu, Ning Alfi menilai pesantren juga perlu menyediakan ruang konsultasi psikologis yang lebih mudah diakses santri. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui mekanisme pendampingan yang profesional.

“Yang kita butuhkan bukan hanya penanganan ketika kasus sudah terjadi, tetapi juga ruang konsultasi dan pendampingan yang bisa mencegah persoalan berkembang menjadi kekerasan,” ujarnya.

Dalam halaqah tersebut, peserta juga merekomendasikan penguatan kerja sama antara pesantren dan perguruan tinggi, khususnya dalam bidang psikologi, kesehatan, dan konseling. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menjawab keterbatasan tenaga profesional yang masih dihadapi banyak pesantren.

“Pesantren tidak bisa berjalan sendiri. Kita perlu menggandeng psikolog, tenaga kesehatan, dan perguruan tinggi agar ada pendampingan profesional yang berkelanjutan,” kata Ning Maya.

Selain penguatan sistem internal, peserta menilai pentingnya membangun komunikasi publik yang lebih baik mengenai pesantren. Mereka menegaskan bahwa kasus kekerasan harus ditangani secara terbuka dan berpihak kepada korban, namun masyarakat juga perlu mengetahui berbagai upaya pembenahan yang sedang dilakukan pesantren.

Karena itu, forum merekomendasikan penyusunan strategi komunikasi publik yang lebih terarah, termasuk penyediaan jalur pengaduan yang jelas, hotline yang terpercaya, serta publikasi praktik-praktik baik yang telah dilakukan pesantren dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan.

Sebelumnya, halaqah yang digelar RMI PBNU dan Lakpesdam PBNU ini merupakan tindak lanjut dari program penguatan kapasitas pesantren yang telah dilakukan melalui tiga kali pelatihan dan satu kali Training of Trainers (ToT). Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan program Transformasi Pesantren yang menitikberatkan pada penguatan kurikulum, sistem kepengasuhan, dan sumber daya manusia.

Ketua Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiyah menegaskan bahwa transformasi pesantren harus dilakukan dengan tetap menghormati keragaman karakter setiap pesantren.

“Jangan menstandarisasi pesantren karena itu berbahaya. Pesantren memiliki karakter dan kekhasan yang berbeda-beda sehingga proses transformasi harus dilakukan secara bertahap dan sesuai konteks masing-masing pesantren,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menegaskan bahwa penguatan tata kelola dan sistem pengasuhan menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan lingkungan sosial dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

“Transformasi Pesantren menjadi penting agar pesantren tetap menjadi lembaga yang otoritatif sekaligus lebih aman bagi seluruh warganya,” katanya.

Rekomendasi yang dihasilkan dalam halaqah ini akan menjadi bahan tindak lanjut RMI PBNU bersama jajaran RMI di tingkat wilayah dan cabang untuk memperkuat gerakan Transformasi Pesantren serta mengembangkan sistem perlindungan anak yang lebih efektif dan berkelanjutan di lingkungan pesantren.

Tags: Al-Falah Ploso KediriFGDGerakan Pesantren Ramah AnakHalaqohMunas-Konbes 2026RMI PBNU

Related Posts

Peristiwa

Munas-Konbes NU 2026 Bahas Arah Kepemimpinan dan Transformasi Digital, Kiai Afif: Musyawarah Tetap Harga Mati

22/06/2026
Peristiwa

Dari Bom yang Gagal Meledak Menjadi Panggilan Ibadah, Kenteng Bersejarah Menggema di Pembukaan Munas-Konbes NU 2026

22/06/2026
Peristiwa

Kenteng dari Bom Tak Meledak Warnai Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Ploso

21/06/2026
Peristiwa

Munas-Konbes NU 2026 Resmi Dibuka Malam Ini di Ploso, Presiden Dijadwalkan Hadir Saat Penutupan

20/06/2026
Peristiwa

Banser dan Pagar Nusa Siap Amankan Munas-Konbes NU 2026, Ribuan Personel Gelar Apel di Ploso Kediri

20/06/2026
Peristiwa

Perkuat Pengawasan WNA, TIMPORA Kota Kediri Gelar Operasi Gabungan di Pondok Pesantren Wali Barokah

20/06/2026
Next Post

Dari Bom yang Gagal Meledak Menjadi Panggilan Ibadah, Kenteng Bersejarah Menggema di Pembukaan Munas-Konbes NU 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

Korlantas Polri Tinjau Simpang Mengkreng Kediri, Titik Rawan Macet Jelang Mudik Lebaran 2026

05/02/2026

Bupati Blitar Ajak Bhabinkamtibmas Aktif Bangun Sinergi dengan Masyarakat

29/04/2025

Polres Ngawi Amankan Dua Orang Diduga Selundupkan 3 Ton Pupuk Bersubsidi

06/04/2025

Ghoni Turut hadir Dalam Pengajian Rutinan Khofifah di Kampung Coklat Blitar

12/10/2024
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO