Kediri – Di Jalan Mauni No. 157, Pesantren, Kota Kediri, berdiri sebuah warung sederhana namun memikat. Namanya Waroeng Baroe Lama, tempat nongkrong bernuansa vintage yang kini banyak diburu anak muda, pecinta barang antik, hingga mahasiswa yang ingin mengerjakan tugas dalam suasana berbeda.
Warung ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 01.00 dini hari. Pemiliknya, Yanuar Riadi, 42 tahun, menuturkan bahwa konsep warung jadul ini lahir dari kecintaannya pada barang-barang lawas.
“Dulu saya punya meja tua di ruang tamu. Meja bulat kaki satu itu saya temukan di luar, saya bawa pulang, terus saya nyaman melihatnya. Sejak itu saya suka barang-barang lawasan,” kenangnya. “Mulainya sekitar tahun 2010, dan ya… jadi keterusan.”
Begitu memasuki Waroeng Baroe Lama, pengunjung langsung disambut suasana hangat penuh nostalgia. Ada wayang tua, belawong, keramik lama, perkakas perbengkelan antik, hingga deretan buku kuno berbahasa Belanda dan Jawa, termasuk terjemahan Al-Qur’an berbahasa Belanda.
Menurut Yanuar, sebagian koleksi ini juga bisa dibeli oleh pengunjung. “Barang antik itu nyarinya nggak ada habisnya. Yang bagus ada yang lain lagi. Ada yang saya dapat dari sekitar sini, ada yang orang bawa sambil ngopi, ada yang kasih info,” ujarnya.
Tak hanya sebagai tempat nongkrong, warung ini juga berfungsi sebagai ruang belajar. Yanuar berharap pengunjung bisa membaca, belajar, atau sekadar mengenal sejarah melalui benda-benda lawas.
“Kalau kita tidak bisa mengajar, kita bisa menyediakan tempat untuk belajar,” jelasnya.
Meski konsepnya unik, menu makanan dan minuman di Waroeng Baroe Lama tetap sederhana. Ada tahu lontong, mi, serta minuman hangat seperti kopi, teh, wedang jahe, dan wedang sereh. Yanuar sempat menjual nasi goreng Jawa dengan anglo, namun kini fokus pada menu sederhana terlebih dahulu.
Pengunjung datang dari berbagai daerah Kediri, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, meskipun warung ini tidak memiliki papan nama yang mencolok di depan.
“Kadang kalau penuh ya penuh. Saya jualan sendiri, belum totalitas, jadi apa adanya dulu,” ujarnya sambil tersenyum.
Rivaldo River, pelajar SMAN 1 Wates, menjadi salah satu pengunjung tetap. Ia mengaku betah karena suasananya berbeda dari tempat nongkrong modern.
“Suasananya enak, sejuk. Kita bisa mengenal sejarah sebelum kita lahir dari buku-buku dan foto-foto yang ada di sini,” kata Rivaldo. “Biasanya ngerjain tugas kelompok. Kalau makan suka tahu telur, minumnya es jeruk. Nyaman banget tempatnya.”
Sejak didirikan pada 2017, Waroeng Baroe Lama membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana, seperti sebuah meja tua dan hobi mengoleksi barang antik dapat menghadirkan ruang publik yang kaya cerita dan memikat banyak hati.
Yanuar berharap warung ini terus menjadi tempat berkumpul, membaca, berdiskusi, atau sekadar menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota.














