Kediri — Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Kediri menunjukkan tren penurunan pada 2025. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan setempat, TPT tercatat sebesar 4,71 persen atau lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, mengatakan angka pengangguran sempat meningkat pada 2022 akibat dampak COVID-19. Saat itu, TPT mencapai 6,83 persen, naik dari 5,15 persen pada 2021.
“Pada 2022 sempat mengalami lonjakan karena Covid-19. Namun, pada 2024 ke 2025 jumlah pengangguran berkurang sekitar 11.000 jiwa,” kata bupati yang akrab disapa Mas Dhito, Rabu (1/4/2026).
Menurut dia, penurunan tersebut merupakan hasil dari berbagai program intervensi di sektor ketenagakerjaan. Pemerintah daerah, kata dia, fokus pada peningkatan kompetensi tenaga kerja serta optimalisasi sistem informasi pasar kerja melalui aplikasi E-Kerjo.
Selain itu, pemerintah juga mendorong perluasan kesempatan kerja melalui program padat karya dan penyelenggaraan bursa kerja atau job fair. Kegiatan ini direncanakan digelar setiap Mei, berdekatan dengan masa kelulusan sekolah.
Pemkab Kediri mengalokasikan anggaran lebih dari Rp14,44 miliar untuk mendukung program penurunan TPT. Anggaran tersebut digunakan untuk pelatihan kerja, penempatan tenaga kerja, serta fasilitasi dunia usaha.
Mas Dhito menambahkan, strategi jangka menengah juga telah disiapkan, antara lain pemberian insentif bagi pelaku usaha, kemudahan perizinan, serta penyusunan peta jalan (roadmap) tenaga kerja periode 2026–2030.
Ia berharap, ke depan angka pengangguran di Kabupaten Kediri dapat berada di bawah rata-rata provinsi yang saat ini berada di kisaran 3,88 persen, sekaligus tetap lebih rendah dari rata-rata nasional.
“Penurunan TPT ini bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Kediri, Ibnu Imad, menekankan pentingnya sinergi antarorganisasi perangkat daerah (OPD) dalam menekan angka pengangguran.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor membuat intervensi program menjadi lebih tepat sasaran. Ia juga menyebut waktu pelaksanaan job fair berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Kami selenggarakan job fair sekitar bulan Mei. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kesempatan kerja,” kata Ibnu.














