Kediri, Kabarutama – Santri tak cukup hanya dibekali ilmu agama. Mereka juga perlu memiliki kemampuan menghadapi situasi darurat dan membantu masyarakat saat bencana melanda. Pesan itu ditegaskan anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB, KH An’im Falachuddin Mahrus, dalam kegiatan Sosialisasi Relawan & Santri Peduli Bencana di Ruang Joyoboyo, Kota Kediri, Selasa (20/10/2026).
Dalam kegiatan yang melibatkan Pemerintah Kota Kediri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut, KH An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd., (Gus An’im) selaku anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menekankan pentingnya tindak lanjut berupa pelatihan praktis. Menurutnya, santri dan masyarakat perlu memahami langkah penyelamatan diri hingga pertolongan pertama ketika bencana terjadi.
Tak hanya soal kesiapan sumber daya manusia, Gus An’im juga menyoroti kebutuhan peremajaan peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri yang disebut sudah berusia tua.
Bagi Gus An’im, edukasi kebencanaan tidak boleh berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan yang diperoleh peserta perlu diperkuat dengan latihan agar mereka mengetahui tindakan yang tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Santri diharapkan tidak sekadar menjadi peserta sosialisasi, tetapi juga dapat mengambil peran dalam gerakan kerelawanan. Dengan pembekalan yang sesuai, mereka berpotensi membantu masyarakat melakukan langkah awal penanganan bencana, termasuk memberikan pertolongan pertama sesuai kemampuan dan pelatihan yang dimiliki.
Keterlibatan santri tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Namun, kemampuan relawan tetap perlu disesuaikan dengan kompetensi, prosedur keselamatan, dan koordinasi bersama petugas berwenang.
Selain mendorong peningkatan kapasitas relawan, Gus An’im turut menyoroti kebutuhan sarana dan prasarana penanggulangan bencana di Kota Kediri.
Sejumlah peralatan BPBD disebut sudah berusia tua sehingga memerlukan peremajaan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kesiapan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada personel, tetapi juga pada ketersediaan peralatan yang memadai.
Gus An’im menilai dukungan anggaran diperlukan agar kebutuhan penanggulangan bencana di daerah dapat dipenuhi secara bertahap. Ia juga berharap BNPB memberikan perhatian terhadap kebutuhan Pemerintah Kota Kediri dalam memperkuat kapasitas BPBD.
Penguatan peralatan tersebut diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan keterampilan petugas dan relawan, sehingga penanganan awal ketika bencana terjadi dapat dilakukan secara lebih terarah.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, bencana dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan kewaspadaan sejak dini.
“Bencana ini tidak bisa kita duga. Kapan saja bisa terjadi dan tingkat kesadaran masyarakat terkait kebencanaan ini kita lihat masih kurang,” ujarnya.
Menurut Vinanda, sosialisasi perlu dilanjutkan dengan pelatihan agar masyarakat memahami potensi ancaman di lingkungan masing-masing. Kesiapsiagaan, lanjutnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Ke depan, apa pun bencananya, santri siap, masyarakat siap, pemerintah juga siap. Kita kolaborasi, gotong royong untuk sama-sama membantu korban,” tegasnya.
Perwakilan BNPB, Bambang Surya Putra, menyoroti pentingnya penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan di tengah perkembangan investasi serta aktivitas ekonomi di Kota Kediri.
Menurutnya, potensi ancaman bencana harus diantisipasi agar keselamatan masyarakat tetap terlindungi dan pembangunan daerah dapat berlangsung dengan memperhatikan risiko kebencanaan.
Kesiapan personel, relawan, peralatan, serta logistik menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Bambang juga mengingatkan bahwa pengelolaan logistik saat keadaan darurat harus dilakukan secara transparan, akuntabel, tepat sasaran, dan tepat waktu agar bantuan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan edukasi dan sosialisasi kebencanaan ini dihadiri KH An’im Falachuddin Mahrus, M.Pd., selaku anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKB sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Direktur Pengelolaan Logistik dan Peralatan BNPB Bambang Surya Putra, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Kediri KH Qowimuddin Thoha, Kalaksa BPBD Kota Kediri Joko Ariyanto Sekda Kota Kediri Endang Kartikasari, serta relawan, Banser, dan sejumlah santri.
Melalui kegiatan ini, penguatan kesiapsiagaan diharapkan tidak berhenti pada sosialisasi. Pelatihan praktis, dukungan peralatan, dan kolaborasi lintas sektor menjadi pekerjaan lanjutan agar santri, relawan, masyarakat, dan pemerintah semakin siap menghadapi ancaman bencana.















