Didi Mahardhika Soekarno, cucu Proklamator Soekarno, menegaskan bahwa dirinya kerap dianggap memiliki ideologi berbeda dibanding sebagian saudara lainnya. Putra almarhumah Rachmawati Soekarnoputri itu menyebut perbedaan tersebut lahir dari amanah yang sejak lama dititipkan ibundanya.
Didi mengatakan, pesan terakhir Rachmawati adalah agar ia tetap setia kepada Prabowo Subianto dan setia kepada Partai Gerindra. Amanah itu, kata Didi, terus ia jalankan hingga hari ini.
“Alhamdulillah saya menjalankan amanah itu sejak dulu. Di Gerindra, menurut saya, inilah satu-satunya partai yang saya suka karena mencerminkan ideologi Bung Karno tanpa dikotomi,” ujarnya.
Didi menambahkan, kedekatannya dengan Prabowo bukan hanya urusan politik, tetapi juga hubungan personal yang ia anggap seperti keluarga.
“Menurut saya, Bapak Prabowo sudah seperti keluarga atau bapak sendiri. Ajaran politik yang ada di darah saya dari kakek dan ibu sangat ideologis, dan saya juga banyak mencontoh dari beliau,” tuturnya.
Tolak Dikotomi Politik
Didi menilai dikotomi politik—seperti pro sana atau pro sini—sudah tidak relevan di Indonesia saat ini. Ia menilai pembelahan semacam itu hanya mempersempit ruang bangsa dan mengotori suasana kebangsaan.
“Mengotakkan Indonesia dengan dikotomi tidak relevan lagi. Terlalu kecil untuk disuguhkan kepada masyarakat. Contoh seperti pro Sukarno atau pro Suharto, saya kira sudah tidak masuk. Kasihan masyarakat melihat tokoh-tokoh dijual untuk hal yang berdampak pseudo,” jelasnya.
Menurut Didi, Indonesia membutuhkan politik yang lebih sehat dan tidak menempatkan tokoh sejarah sebagai komoditas perpecahan.
















