BLITAR – Suasana Alun-Alun Kanigoro, Kabupaten Blitar, dibuat semarak oleh pagelaran adu laga tiban dalam rangkaian Hari Jadi ke-702 Blitar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu-Minggu (8-9/8/2026) itu mempertemukan para pendekar dari sejumlah daerah di Jawa Timur.
Sejak Sabtu (8/8/2026), suasana di sekitar arena mulai dipenuhi aktivitas para peserta. Tradisi tiban yang menjadi bagian dari budaya masyarakat agraris tersebut kembali ditampilkan sebagai salah satu agenda peringatan Hari Jadi Blitar.
Pada hari pertama, para pendekar dari Blitar dan Tulungagung tampil secara bergantian di arena. Mereka menunjukkan kemampuan dalam tradisi tiban yang selama ini berkembang dan diwariskan di sejumlah daerah sekitar Blitar.
Keesokan harinya, Minggu (9/8/2026), giliran pendekar dari Trenggalek dan Kediri yang tampil. Pergelaran selama dua hari itu menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku tradisi tiban dari beberapa daerah sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas.
Bupati Blitar Rijanto mengatakan tiban tidak sekadar menjadi pertunjukan tradisional. Di dalam tradisi tersebut terdapat sejumlah nilai yang menurutnya masih relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda.
Nilai tersebut antara lain keberanian, sportivitas, kedisiplinan, persaudaraan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap tradisi. Karena itu, keberadaan tiban dinilai perlu terus dijaga agar tidak terputus di tengah perubahan zaman.
“Karena itu budaya tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Rijanto.
Menurut Rijanto, tiban tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat di sejumlah wilayah.
Pemkab Blitar melihat keberadaan tiban tidak hanya penting dari sisi pelestarian budaya. Tradisi tersebut juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter sekaligus dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Blitar.
Pembina Paguyuban Tiban Blitar-Tulungagung Guntur Wahono menyambut baik kembali digelarnya pagelaran tersebut. Menurutnya, pemerintah daerah telah memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan kesenian tradisional yang sudah berkembang secara turun-temurun.
Guntur menyebut pelaksanaan tahun ini merupakan kali kedua pagelaran adu laga tiban digelar. Pesertanya tidak hanya berasal dari Blitar dan Tulungagung, tetapi juga melibatkan pendekar dari Trenggalek, Kediri, serta daerah lain di sekitarnya.
Menurut Guntur, pertemuan para pendekar dalam arena bukan sekadar soal menunjukkan kemampuan. Ada hubungan persaudaraan yang tetap dijaga meskipun para peserta berasal dari daerah yang berbeda.
“Di atas arena kita mengadu kemampuan, tetapi di luar arena kita tetap saudara,” ujar Guntur.
Pergelaran selama dua hari tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi ke-702 Blitar. Tradisi tiban yang ditampilkan di Alun-Alun Kanigoro juga menjadi ruang bagi komunitas untuk bertemu, berinteraksi, sekaligus memperkenalkan kembali salah satu warisan budaya daerah kepada masyarakat.















