Kediri, kabarutama – Perjalanan seorang atlet muda menuju level profesional tidak hanya ditentukan oleh bakat dan kerja keras di lapangan. Peran orang tua menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan fisik, mental, hingga kesiapan karier anak.
Menyadari pentingnya hal tersebut, Liga Persik menggelar webinar bertajuk “Peran Orang Tua pada Fase Transisi Anak: Dari Atlet Amatir Menuju Profesional” sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Liga Persik 2026. Kegiatan ini diikuti oleh orang tua, pelatih, dan pemain untuk memperkuat pemahaman mengenai proses pembinaan atlet muda.
Direktur Persik Kediri, Souraiya Farina, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang agar tidak hanya pemain dan pelatih yang memperoleh pengetahuan tambahan, tetapi juga orang tua.
“Di usia 15–17 tahun merupakan usia yang krusial bagi anak-anak untuk menentukan jalur karier mereka ke depannya,” ujarnya.
Menurutnya, fase tersebut menjadi periode penting bagi atlet muda dalam menentukan langkah menuju jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, orang tua perlu memahami kebutuhan dan standar yang harus dipenuhi seorang atlet profesional.
Webinar menghadirkan Guntur Cahyo Utomo sebagai narasumber. Ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi atlet muda saat memasuki fase transisi dari amatir ke profesional, sekaligus memberikan panduan kepada orang tua dalam mendampingi perkembangan anak.
Dalam pemaparannya, Guntur menjelaskan bahwa sepak bola merupakan miniatur kehidupan yang mampu mendukung perkembangan anak dari berbagai aspek, mulai dari fisik, kognitif, hingga sosial dan emosional.
Dari sisi fisik, pembinaan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan tubuh anak. Ia mencontohkan bahwa pemain usia 12 tahun belum dianjurkan menjalani latihan beban berat karena fungsi fisiologis tubuh mereka belum berkembang secara optimal.
Selain itu, sepak bola juga berperan dalam meningkatkan kemampuan kognitif. Permainan menuntut pemain untuk berpikir cepat, logis, dan analitis dalam mengambil keputusan maupun memecahkan masalah di lapangan.
“Penalaran, berpikir secara logis, dan analitis menjadi sesuatu yang sangat penting. Semakin tinggi perkembangan otak manusia, aspek kognitifnya akan semakin berfungsi dengan baik,” jelasnya.
Aspek sosial dan emosional juga berkembang melalui kompetisi. Anak-anak belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, bekerja sama dalam tim, serta menghadapi tekanan dan perbedaan.
“Bertemu dengan lebih banyak orang dan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berbeda akan membantu mereka mengembangkan aspek sosial dan emosional,” tambah Guntur.
Melalui kegiatan ini, Liga Persik berharap orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai proses pembinaan atlet muda sehingga dapat memberikan dukungan yang tepat saat anak memasuki fase transisi menuju sepak bola profesional.















