Blitar – Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah ternyata tidak menyurutkan semangat pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Blitar. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Diskopum) Kabupaten Blitar justru semakin gencar menerapkan strategi kreatif agar ribuan UMKM binaannya tetap tumbuh mandiri dan berdaya saing global.
Kepala Diskopum Kabupaten Blitar Sri Wahyuni, menegaskan bahwa keterbatasan APBD bukan penghalang untuk mencetak pengusaha yang tangguh. Pihaknya kini lebih fokus membuka akses pasar dan fasilitas bagi para pelaku usaha.
Untuk menyiasati efisiensi, Diskopum beralih dari pola bantuan langsung ke penguatan kapasitas melalui Kegiatan edukasi tetap berjalan rutin baik secara daring (online) maupun luring (offline). Aktivasi Ruang Publik UMKM rutin dilibatkan dalam berbagai acara promosi, termasuk menempati ruang di Car Free Day Jalan Kota Baru, Kanigoro, yang dimulai sejak November lalu. Pendataan Berbasis Performa: Event-event tersebut menjadi ajang seleksi untuk mendata UMKM mana yang sudah siap tampil mandiri di pasar yang lebih luas.
Sri Wahyuni mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan saat ini adalah kolaborasi. Diskopum aktif menggandeng akademisi hingga lembaga keuangan untuk menutupi celah pendanaan.
“Kami intens bekerja sama dengan Polinema hingga sektor perbankan. Tahun ini, kolaborasi tersebut membuahkan bantuan alat produksi untuk empat UMKM strategis,” jelas Sri Wahyuni.
Beberapa bantuan alat produksi yang telah disalurkan seperti Rumah pengering marning di Kecamatan Talun. Alat pemotong pita untuk pengrajin tas talikur. Alat pengupas kelapa untuk produksi Virgin Coconut Oil (VCO). Mesin vacuum dryer untuk pengolahan melon di Kecamatan Wates.
Selain itu, kerja sama dengan OJK dan Bank Indonesia (BI) terus diperkuat guna memberikan akses promosi berskala nasional, sehingga pelaku UMKM Blitar bisa belajar langsung mengenai standar produk dan inovasi dari daerah lain.
Hal yang unik dalam pembinaan kali ini adalah adanya program “Sedekah Ilmu”. Diskopum mendorong pelaku UMKM yang sudah mapan untuk berbagi pengalaman kepada pelaku usaha pemula tanpa imbalan honor, melainkan murni semangat gotong royong.
Untuk menjaga keberlanjutan, Diskopum juga membentuk Grup Pendampingan Pascapelatihan sebagai Wadah diskusi dan solusi kendala produksi. Katalog Kolektif merupakan sistem promosi silang di mana satu UMKM yang berhasil masuk ke pusat oleh-oleh (misalnya di Yogyakarta) akan turut membawa katalog produk rekan-rekan UMKM lainnya dari Blitar.
“Promosi tidak dilakukan secara individu, melainkan kolektif. Tujuannya agar semua tumbuh bersama-sama,” pungkas Sri Wahyuni.














