Senin, Februari 9, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Politik

Pilkada Ajang Politik Elektapopularity

redaksi by redaksi
28/08/2024
in Politik
0

Opini*

Penulis : Habibullah

Baca Juga :

Megawati: Bangsa Indonesia Butuh Teladan, Bukan Sekadar Kata-kata

Mas Dhito Tegas Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD, Sebut Ancaman bagi Demokrasi

Gejolak darurat konstitusi yang mengundang banyak reaksi sudah berlalu. Kini tinggal isu politik dinasti yang terus digalakkan oleh partai politik yang merasa sakit hati.

Semua semakin benderang, mana yang ambisius dan mana yang rakus akan kekuasaan. Muaranya tetap untuk menjadi raja lokal pada perhelatan pemilihan kepala daerah mendatang.

Tenggat waktu yang semakin dekat, membuat parpol dan politisi sibuk menjajaki dan menjajakan kepentingan dengan manuver politik yang kadang menyesatkan.

Banyak pesona politik yang disebar dengan berbagai cara untuk memperkenalkan para kandidat, meskipun ada yang tidak jelas ideologi dan latar belakang politiknya.

Sehingga rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam demokrasi, dibingungkan dengan munculnya calon dan paslon yang kualifikasinya jauh dari idealisasi seorang calon pemimpin.

Penilaian atas kepatutan seorang kandidat dari segi integritas dan intelektualitas seakan sudah tidak ada lagi. Semua bertumpu pada elektapopularity yang berdasarkan kalkulasi kuantitatif, bukan kualitatif.

Istilah elektapopularity sendiri, adalah akronim dari padu-padan kata elektabilitas dan popularitas. Menyadur makna dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), elektabilitas berarti keterpilihan.

Dalam situs Political Dictionary, elektabilitas mengacu pada persepsi kemampuan seorang calon untuk memenangkan pemilu. Penilaiannya diukur oleh pemilih, orang di dalam partai, pakar politik dan media.

Untuk istilah selanjutnya, yakni popularitas. Mengacu pada KBBI, diartikan sebagai kepopuleran atau tingkat kepopuleran. Atau yang dalam bahasa sederhananya, adalah banyak dikenal dan di ketahui banyak orang.

Sedangkan Menurut Britannica Dictionary, popularitas adalah keadaan disukai, diterima, atau diakui oleh banyak orang. Bedanya pengertian ini dengan yang di atas, keberadaannya lebih diakui.

Jika dikaitkan dengan kontestasi politik, maka elektabilitas dan popularitas adalah sesuatu yang memiliki nilai lebih untuk dipilih oleh masyarakat dan berpeluang untuk menjadi pemenang.

Politik Elektapopularity

Politik elektapopularity seperti jaring laba-laba, kekuatannya terus menjerat dan mengkerangkeng demokrasi dalam setiap proses politik. Wabilkhusus ketika berkaitan dengan penentuan calon pemimpin.

Dalam leksikon politik kekinian, elektapopularity yang dasarnya adalah angka, statistik, dan citra. Di anggap sebagai azimat bertuah untuk mencapai kuasa dan kemenangan di setiap kompetisi dan kontestasi.

Tingginya kepercayaan atas kekuatan magic dari elektapopularity, bisa kita lihat dari banyaknya keputusan dan kesepakatan para elit politik dan parpol dalam mengusung calon pemimpin.

Di satu sisi, elektapopularity seperti menjadi harga mati bagi para politisi dan parpol yang ambisi pada kekuasaan. Sedang di sisi yang lain, justru menjadi momok menakutkan bagi mereka yang tidak populer dan elektabel.

Dalam jurnal Risalah (2017) Vol. 28. No. 2. Desember, ada tulisan menarik yang mengulas politik di Indonesia dengan judul : Mencermati Pilihan Rakyat antara Popularitas dan Integritas Semu.

Ulasan yang ditulis oleh Suardi tersebut, mengatakan bahwa poularitas adalah hal penting yang selalu menjadi incaran partai politik. Karena, popularitas sangat berperan dalam menentukan minat dan pilihan masyarakat.

Dari sinilah, partai politik melihat popularitas sebagai cara untuk mengangkat elektabilitas seorang kandidat. Maka dari itu, tidak mengherankan bila partai politik dalam penentuan pasangan calon selalu berdasarkan pada elektapopularity semata.

Dengan demikian, pemilih seperti selalu dipaksa untuk memilih pemimpin sesuai penilaian para politisi, parpol, dan media. Sedangkan calon yang diusung, kualitas intelektualitas dan integritasnya jauh dari idealisasi seorang pemimpin.

Bahaya Elektapopularity

Setiap pilihan pasti ada efek yang bakal berdampak pada pemilih dan yang tidak memilih. Apalagi ini bicara pemimpin dan kekuasaan. Yang mana, hajat orang banyak menjadi taruhannya.

Memilih pemimpin itu memang gampang-gampang susah, sebab ia berada di antara ujung paku dan pangkal pikiran. Kalau yang pertama, yang penting nyoblos. Kalau yang kedua, tentu tak cukup hanya dengan akal polos.

Kualifikasi kepemimpinan itu tidak cukup hanya dengan berdasarkan elektapopularity dari partai politik maupun seorang calon semata. Kualifikasinya tentu jauh lebih esensial dari itu.

Sebagaimana dikatakan M. Alfan Alfian, seorang pengamat politik yang dalam tulisannya termuat di Koran Sindo dengan judul : Demokrasi Kok Elektabel? edisi 08 Februari 2014 silam.

Dia mengatakan bahwa demokrasi seharusnya tidak berurusan dengan popularitas, pun elektabilitas. Demokrasi mestinya berurusan dengan ikhtiar untuk mencari pemimpin-pemimpin yang bermutu.

Namun dengan maraknya calon pemimpin yang diusung partai politik melalui kualifikasi yang hanya berdasarkan elektapopularity. Tentunya semakin membenarkan pendapat pengamat politik tersebut.

Bahwasanya, derajat dari demokrasi itu sendiri sedang diturunkan ke level terendah oleh parpol dan para politisi. Yakni penurunan level hanya pada urusan-urusan teknis untuk melejitkan  elektapopularity semata.

Sehingga rakyat sebagai representasi tunggal pemilik sah dari suara tuhan, seakan benar-benar hendak dihilangkan kedaulatannya. Yang tentunya dengan pilihan-pilihan yang sangat jauh dari kualifikasi ideal seorang calon pemimpin.

Jika praktik politik dalam penentuan calon pemimpin sudah demikian, maka bidang pengkaderan dalam struktur kepartaian untuk mencetak pemimpin berkualitas. Keberadaannya sudah tidak relevan lagi, dan kalau perlu dihapuskan saja.

Meminjam istilah M. Alfan Alfian, jika memang begini realitas politik kekinian, maka partai politik tak ubahnya halte sementara bagi mereka yang mau naik kendaraan menuju stasiun kekuasaan.

Wassalam

Related Posts

Politik

Megawati: Bangsa Indonesia Butuh Teladan, Bukan Sekadar Kata-kata

21/01/2026
Politik

Mas Dhito Tegas Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD, Sebut Ancaman bagi Demokrasi

12/01/2026
Politik

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar Tolak Pilkada Dipilih DPr

10/01/2026
Politik

Bawaslu Blitar Buka Posko Aduan Masyarakat, Kawal Pemutakhiran Data Parpol Berkelanjutan

09/01/2026
Politik

Rakor Perdana, Mas Dhito Instruksikan Kader PDI Perjuangan Kediri Turun ke Akar Rumput dan Rangkul Pemuda

07/01/2026
Politik

Prabowo Kelakar di Natal Nasional: Saya Kalah 3 Kali karena Pak Luhut Tak Dukung

06/01/2026
Next Post

Deklarasi Vinanda - Gus Qowim, Usung Tema Kerakyatan dan Kemapanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

Peringati Hari Kartini, Mbak Vinanda Riding Vespa Bersama Komunitas Vespa Kediri

21/04/2025

Belasan Pendekar Diamankan Polres Blitar Kota Usai Lakukan Perusakan dan Penganiayaan

06/07/2025

Puluhan Minimarket Ilegal Beroperasi di Kota Blitar, Pemerintah Masih Membiarkan Beroperasi

20/01/2025

Band Rock Legendaris God Bless, Titip Kemajuan Musik Rock Kota Kediri Kepada Mbak Vinanda – Gus Qowim

23/11/2024
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO