BLITAR – Sekelompok pemuda di Kota Blitar mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terapan untuk menjawab tantangan kesenjangan keterampilan tenaga kerja di era digital. Melalui Augmenta AI Labs yang berbasis di lantai 2 Pasar Legi Blitar, mereka menghadirkan aplikasi Augmenta sebagai solusi peningkatan produktivitas berbasis AI.
Inisiatif ini lahir di tengah tantangan global transformasi tenaga kerja. Laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report 2025 memprediksi AI akan menciptakan sekitar 170 juta lapangan kerja baru hingga 2030, namun berpotensi menggeser 92 juta pekerjaan lama. Sementara itu, survei EY menyebutkan perusahaan global berisiko kehilangan hingga 40 persen potensi produktivitas akibat kesenjangan strategi talenta dan keterampilan sumber daya manusia.
Pendiri Augmenta AI Labs, Cahyo Inda Wahono, mengatakan Augmenta tidak hanya berperan sebagai penyedia teknologi, tetapi sebagai penggerak ekosistem talenta digital yang mampu menjawab The Great Skill Gap.
“Kami melihat pasar AI diproyeksikan bernilai USD 1,3 triliun pada 2030. Namun faktanya, meski 88 persen karyawan mulai menggunakan AI, sebagian besar masih terbatas pada tugas-tugas dasar. Hanya sekitar 5 persen yang benar-benar mampu memanfaatkan AI untuk transformasi alur kerja,” ujar Cahyo, Sabtu (27/12).
Cahyo merupakan praktisi industri kreatif yang telah berkecimpung di bidang audio visual sejak 2004. Ia pernah menjabat sebagai Executive Producer dan Post Supervisor di Jakarta sebelum kembali ke daerah. Berbekal sertifikasi AI Engineer, Google Apps Builder, dan Master Trainer BNSP, ia merancang Augmenta AI Labs dengan pendekatan pelatihan yang menitikberatkan pada penerapan langsung di dunia kerja.
Augmenta AI Labs mengusung sejumlah keunggulan, di antaranya kepemimpinan berbasis pengalaman industri dan keahlian teknis, metode pelatihan aplikatif dengan pendekatan santai, serta kurikulum yang berfokus pada advanced prompt engineering dan otomasi alur kerja. Keunikan lainnya adalah pemilihan Pasar Legi Blitar sebagai lokasi inkubasi, yang dimaknai sebagai upaya demokratisasi teknologi agar dapat diakses pelaku UMKM.
Melalui aplikasi Augmenta, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga masuk ke dalam jaringan talenta digital yang terkurasi dan siap diserap industri yang membutuhkan efisiensi berbasis AI.
Langkah ini dinilai relevan dengan kondisi Kota Blitar. Data Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja setempat mencatat jumlah UMKM meningkat dari 14.734 unit pada 2023 menjadi 22.094 unit pada akhir 2024. Di sisi lain, sekitar 39 persen keterampilan kerja saat ini diperkirakan akan usang pada 2030.
Keberadaan Augmenta AI Labs juga dinilai sejalan dengan capaian Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Kota Blitar yang mencapai 3,68 pada 2024, serta menunjukkan potensi ruang publik tradisional sebagai pusat inovasi digital.
“Masa depan bukan soal AI menggantikan manusia, tetapi bagaimana manusia yang ter-augmentasi oleh AI mampu menciptakan efisiensi baru. Dari Blitar, kami ingin memanusiakan AI untuk Indonesia,” pungkas Cahyo.
















