Kabarutama – Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menekankan pentingnya peningkatan kualitas pekerja migran Indonesia (PMI) agar mampu bersaing di pasar kerja global, khususnya melalui penguasaan bahasa asing.
Hal itu disampaikan dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Nurhadi mengapresiasi program SMK Go Global yang menargetkan 500.000 tenaga kerja. Namun, ia mengingatkan agar program tersebut tidak hanya berfokus pada kuantitas, melainkan juga kualitas tenaga kerja yang dihasilkan.
Menurut dia, hingga saat ini mayoritas PMI masih bekerja di sektor domestik yang dinilai rentan dan belum memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian nasional.
“Remitansi Filipina bisa mencapai 600–700 triliun rupiah, sementara Indonesia pada 2025 sekitar 288 triliun rupiah. Ini menunjukkan masih ada kesenjangan yang cukup jauh,” kata Nurhadi.
Ia menilai, rendahnya daya saing PMI juga tercermin dari minimnya tenaga kerja terampil yang terserap di luar negeri. Salah satunya terlihat dari peluang di Australia yang membutuhkan sekitar 75.000 tenaga kesehatan, namun Indonesia baru mampu mengisi sekitar 5 persen.
Nurhadi menyebut, salah satu kendala utama adalah kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
“Kelemahan utama kita ada di bahasa. Pembelajaran selama ini terlalu fokus pada teori dan grammar, kurang pada praktik komunikasi,” ujarnya.
Padahal, menurut dia, negara tujuan seperti Australia dan Korea Selatan menilai pekerja Indonesia memiliki karakter positif seperti ramah, sabar, dan pekerja keras.
Untuk itu, ia mendorong perbaikan sistem pendidikan sejak dini dengan menekankan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua dalam proses pembelajaran.
Selain itu, Nurhadi juga meminta adanya kolaborasi lintas kementerian guna memperkuat kompetensi bahasa dan keterampilan tenaga kerja Indonesia sebagai strategi jangka panjang.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menyambut bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2030.
“Kalau tidak disiapkan dari sekarang, kita akan kehilangan momentum. Padahal potensi kita sangat besar,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan kualitas penempatan PMI ke sektor-sektor strategis, tidak hanya di pekerjaan domestik.















