Rabu, Februari 25, 2026
kabarutama.co
No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA
No Result
View All Result
kabarUtama.co
Home Redaksi

Mokel dan Eugen Ehrlich

redaksi by redaksi
25/02/2026
in Redaksi
0

Oleh : Dr H.A Hakam Sholahuddin MH

(Ketua PC ISNU Kab Blitar dan pengajar Sosiologi Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

Baca Juga :

Pangkalan Ojek Bhayangkara Hadir di Kendalrejo, Dukung Ketertiban Lalu Lintas Blitar

Ketika Max Weber Nyempil di Tengah Jamaah Istighotsah

Tahun ini, bulan Ramadan datang dengan pagi terasa sejuk nan mendung, dan siang berjalan terang, serta sore diguyur hujan. Harapannya segera bunyi bedug azan magrib.

Setiap bulan puasa tiba, orang-orang diajak menahan diri. Menahan lapar, dahaga, amarah, bahkan berkata-kata yang tidak perlu. Tapi di sela-sela suasana yang khusyuk itu, anak-anak yang minggu ini sudah memasuki masuk sekolah terjadi fenomena yang ramai dibahas di grup-grup Whatsap. Istilahnya mokel. Mereka menyantap makanan bergizi gratis (MBG) berupa keringan kayak roti atau buah yang dibagikan di sekolahannya. Makannya pun tentu di area sekolah. Gurunya jadi repot yang tengah gencar menggelar pondok ramadan.

Mokel itu orang yang sengaja membatalkan puasa sebelum waktunya. Biasanya dilakukan diam-diam. Kadang di warung yang setengah tertutup. Kadang di balik pintu rumah yang hanya dibuka sedikit.

Menariknya, masyarakat sering memandang mokel tidak sekadar sebagai urusan pribadi antara manusia dan Tuhan. Mokel kadang menjadi gurauan. Kadang menjadi teguran halus. Kadang juga menjadi cerita yang beredar dari satu sudut kampung ke sudut lainnya. Nah, tulisan ini ingin menggunakan pandangan Eugen Ehrlich. Nama Eugen Ehrlich mungkin terdengar asing. Dia bukan kiai, bukan pula penceramah kultum Ramadan. Dia seorang sosiolog hukum yang hidup pada awal abad ke-20. Namun pemikirannya dapat membantu memahami bagaimana norma hukum bekerja di tengah masyarakat.

Ehrlich memperkenalkan gagasan yang terkenal dengan namanya living law, atau hukum yang hidup di masyarakat.
Menurut Ehrlich, hukum tidak hanya berada di dalam kitab undang-undang. Tapi hukum juga hidup di dalam kebiasaan, tradisi, dan nilai yang dipraktikkan oleh masyarakat sehari-hari. Hukum akan benar-benar ditaati masyarakat justru bukan yang tertulis di buku, tetapi yang hidup dalam kesadaran bersama.
Dalam pandangan Ehrlich, perilaku masyarakat berpuasa ramadan bukan sekadar kewajiban agama yang bersifat pribadi. Puasa telah menjadi norma sosial yang hidup.

Maka di bulan Ramadan, suasana kampung berubah. Warung makan menutup tirainya. Orang-orang menahan diri untuk tidak makan di depan umum. Anak-anak belajar memahami bahwa siang hari bukan waktu untuk jajan sembarangan. Bahkan orang yang tidak berpuasa pun biasanya mencoba menghormati suasana.

Semua itu bukan karena ada undang-undang negara yang melarang makan siang di bulan Ramadan. Tidak ada polisi yang berpatroli mencari orang yang minum es di siang hari. Namun masyarakat tetap menjaga suasana itu dengan kesadaran bersama.

Inilah yang oleh Ehrlich disebut sebagai hukum yang hidup. Hukum itu tidak tertulis. Tidak memiliki pasal-pasal. Hukum bekerja dengan cara yang sangat kuat melalui rasa malu, rasa hormat, dan kesadaran sosial.

Karena itulah mokel sering dianggap sebagai sesuatu yang “tidak enak dilihat”. Bukan hanya karena melanggar kewajiban agama, tetapi juga karena melanggar kesepakatan sosial yang tidak pernah ditulis tetapi dipahami bersama.

Maka tidak heran jika orang yang mokel biasanya melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Jarang sekali ada orang mokel dengan penuh percaya diri di tengah keramaian. Kalau pun ada, biasanya akan mendapat tatapan panjang dari orang-orang di sekitarnya.
Tatapan itu bukanlah hukuman resmi. Tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Dalam bahasa sosiologi, itu disebut sebagai kontrol sosial. Namun, masyarakat biasanya menghadapi fenomena mokel dengan cara yang tidak terlalu keras. Alih-alih menghakimi secara terbuka. Tapi lebih sering memilih cara yang halus: bercanda.
“Lho, kok wes ngopi?”
“Puasa bedug (dhuhur) ya?”
Kalimat seperti itu terdengar ringan. Tetapi sebenarnya sebagai bentuk teguran sosial yang lembut.

Di sinilah kebijaksanaan masyarakat bekerja.
Norma dijaga, tetapi tanpa kekerasan. Nilai dipertahankan, tetapi tanpa mempermalukan.
Kalau kita renungkan lebih dalam, sebenarnya Ramadan bukan sekadar tentang siapa yang paling kuat menahan lapar. Ramadan adalah latihan kesadaran. Kita belajar menahan diri bukan karena ada orang yang mengawasi, tetapi karena kita sadar bahwa Allah melihat.

Namun dalam kehidupan sosial, manusia memang tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Kita hidup di tengah masyarakat yang memiliki nilai bersama. Kita saling mengingatkan, kadang dengan kata-kata, kadang hanya dengan sikap.
Puasa Ramadan adalah contoh yang indah dari hukum yang hidup itu.

Tidak ada polisi puasa. Tidak ada pengadilan puasa. Tetapi jutaan orang tetap menjalankannya dengan penuh kesadaran.

Tentu saja, selalu ada orang yang mokel. Itu bagian dari kenyataan manusia. Tidak semua orang berada pada tingkat kekuatan yang sama. Tidak semua orang memiliki kondisi yang sama.
Karena itu, mungkin yang lebih penting bukanlah sibuk mencari siapa yang mokel, tetapi menjaga agar suasana Ramadan tetap menjadi ruang kebaikan bersama.

Sebab tujuan puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan empati.
Orang yang benar-benar memahami puasa biasanya justru menjadi lebih lembut kepada sesama manusia. Tidak mudah menghakimi. Tidak tergesa-gesa menilai karena perjalanan spiritual setiap orang berbeda.

Mungkin hari ini seseorang masih mokel. Siapa tahu tahun depan justru menjadi orang yang paling rajin ke masjid. Manusia memang sering berubah dengan cara yang tidak terduga.

Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi bulan yang penuh kasih sayang. Bulan di mana kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan keinginan untuk merasa lebih suci daripada orang lain.

Menggunakan istilah Ehrlich, kita bisa mengatakan bahwa kekuatan sebuah norma tidak terletak pada kerasnya hukuman, tetapi pada hidupnya nilai itu di tengah masyarakat.

Selama masyarakat masih memuliakan Ramadan. Orang masih merasa tidak enak hati untuk mokel secara terang-terangan, sebenarnya hukum yang hidup itu masih bekerja.

Dan mungkin itulah keindahan Ramadan.
Puasa tidak hanya mengajarkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antar manusia.

Di antara lapar yang ditahan dan azan yang ditunggu, kita belajar satu hal sederhana: bahwa hidup bersama memerlukan rasa saling menjaga.
Bahkan kadang, menjaga itu cukup dengan sebuah senyum dan satu kalimat ringan. Sing kuat posone nggih. hehehe? (*)

Tags: EugenEhrlichHukumYangHidupKontrolSosialLivingLawMokelpuasaRefleksiRamadanSosiologiHukum

Related Posts

Redaksi

Pangkalan Ojek Bhayangkara Hadir di Kendalrejo, Dukung Ketertiban Lalu Lintas Blitar

28/01/2026
Redaksi

Ketika Max Weber Nyempil di Tengah Jamaah Istighotsah

24/01/2026
Redaksi

Aneh Tapi Nyata, Warga Ponggok Blitar Minta Dipenjara Karena Perbuatan Zina

20/01/2026
Redaksi

Status whatsapp dan Manusia Tiruan ala Baudrillard

20/01/2026
Redaksi

Bukan Lapor Kriminal, Warga Kota Blitar Telepon 110 Curhat Istri Minta Cerai

19/01/2026
Redaksi

Isra’ Mi’raj, Momentum Spiritual Umat Islam untuk Memperkuat Iman

16/01/2026
Next Post

Truk Bertabrakan di Perlintasan JPL 105, 5 Kereta Terdampak dan Palang Pintu Rusak

POPULAR NEWS

Sungai Brantas Dipladu, Seorang Pria di Blitar Meninggal Dunia saat Mencari Ikan

27/04/2025

Polwan Blitar Kota Digerebek di Hotel Batu, Diduga Bersama Anggota DPRD

20/10/2025

Warga Wonodadi Blitar Demo Kantor Desa, Tolak Lapangan Sepak Bola Dibangun KDMP

13/01/2026

Ketahuan Curi Motor di Ponggok Blitar, Warga Garum Dihajar Massa Sampai Babak Belur

23/04/2025

Kredit Fiktif di Bank BUMN Pare, Kejari Kab Kediri Jebloskan Tiga Tersangka ke Penjara

07/07/2025

EDITOR'S PICK

Bangga! Siswa SMPN 1 Badas Raih Juara 2 Kejuaraan Panahan Jatim, Jadi Inspirasi Pelajar Kediri

11/12/2025

KAI Daop 7 Madiun Lakukan Pemeriksaan Jalur Talun – Garum untuk Minimalisir Potensi Bahaya

09/11/2025

Pj Bupati Blitar Resmikan Palang Pintu dan Pos Jaga Perlintasan Kereta Api

04/11/2024

Cuaca Ekstrem Terjang Garum Blitar, Rumah Warga Rusak Berat Tertimpa Pohon

18/12/2025
kabarutama.co

© 2024 KABARUTAMA.CO

HUBUNGI KAMI

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

IKUTI KAMI

No Result
View All Result
  • HOME
  • UTAMA
  • POLITIK
  • PERISTIWA
  • HUKUM DAN KRIMINAL
  • EKONOMI BISNIS
  • BUDAYA
  • KESEHATAN
  • PENDIDIKAN
  • GAYA HIDUP
  • OLAH RAGA

© 2024 KABARUTAMA.CO