Dr H.A. Hakam Sholahuddin
Ketika tiba-tiba pagi (24/1) ini Max Weber ikut menyempil di tengah lautan manusia di Stadion Soeprijadi Kota Blitar. Sosiolog asal Jerman itu seakan duduk lesehan di atas rumput lapangan bersama warga nahdliyin yang merayakan 1 abad Jam’iyyah terbesar di muka bumi ini, Nahdlatul Ulama (NU).
Sambil menundukkan kepala dan mulutnya berkomat-kamit melantunkan doa istighotsah. Di dalam hatinya tidak buru-buru mempertanyakan, apalagi menghakimi apakah rapalan doa, sholawat, dan dzikir yang bergema itu sebagai tindakan salah atau benar. Weber tidak sinis terhadap agama.
Tapi, Mbah Weber yang sebaya dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari itu justru akan mengajukan pertanyaan, apakah ada tindakan sosial yang terjadi di dalam istighotsah yang dihadiri 30 ribu warga nahdliyin tersebut.
Ya, kehadiran Weber itu imajiner dan hanya ingin menguji tentang teorinya. Istighotsah adalah doa kolektif lahir dari rasa keterbatasan manusia.Tradisi ini kerap dilakukan warga nahdliyin yang dianggap kaum sarungan dan tradisional. Namun, masyarakat modern dengan naral rasional justru sering menemui temboknya sendiri melakukan dengan cara yang tidak rasional, seperti stres dan bahkan sampai bunuh diri.
Setiap saat ada bencana datang, masalah ekonomi menghimpit, atau ketidakpastian sosial menguat, ada kuasa di luar kendali manusia yang dapat menyelesaikan, Yakni Allah Swt. Tidak dengan warga nahdliyin alih-alih menyerah pada keputusasaan, malah bergerak berkumpul, berdoa, dan berharap meski tanpa dimobilisasi.
Di mata Weber, istighotsah bukan tindakan irasional, justru sebaliknya.
Weber mengajarkan ada empat teori dalam tindakan sosial. Yakni rasional instrumental, rasional berorientasi nilai, afektif, dan tradisional. Dan, perhelatan istighotsah kubro yang bertama kali digelar di Blitar ini mengandung empat tipe tindakan sekaligus.
Bahwa istighotsah sebagai tindakan doa kolektif kepada Allah agar dijauhkan dari marabahaya dan malapetaka di tengah bencana alam akibat kerusakan lingkungan. himbitan ekonomi dengan ditunjukkan menurunnya daya beli masyarakat dan beragam problem sosial lainnya. Nah, istighotsah menjadi sarana mengetuk langit agar Allah mengabulkan segala hajat pribadi, jam’iyyah maupun bernegara.
Maksudnya bagaimana Mbah? Rasional instrumental itu adalah tindakan yang dilakukan penuh perhitungan dan sadar. Antara cara dan tujuannya dinilai paling efektif tercapainya. Yakni setiap hamba diwajibkan berdoa kepada Allah. Dan, cara yang paling efektif akan dikabulkan doa itu jika dilakukan secara kolosal.
Apalagi istighotsah kubro dipimpin oleh sembilan kiai kharismatik Blitar raya. Ada KH Ardani Ahmad, KH Harun Syafii, KH Diya’uddin Azzam-zami, KH Saiful Bahri, KH Abdul Mu’ti, KH Abdul Karim Muhaimin, KH Muktar Lubby, dan KH Chusnan Dimyati.
Tipe kedua adalah rasional orientasi nilai. Bahwa istighotsah merupakan cara yang benar dan bernilai. Sebab, kewajiban seorang hamba adalah berdoa. Persoalan hasil menjadi hak preogratif Allah.
Sedang tipe ketiga adalah tindakan afektif. Warga nahdliyin sejak subuh sudah berduyun-duyun menuju stadion. Mereka bermunajat bersama-sama karena memiliki kesamaan dan berharap segala masalah terselesaikan. Sehingga saat dibacaan doa istighotsah tak kuasa menitikkan air mata. Saya pun tak kuasa menangis ketika tiba-tiba kiai yang memimpin istighotsah membaca sholawat adrikni ya rasulullah.
Bertawasul kepada kekasih Allah orang termulia di muka bumi, rasulullah Muhammad Saw. Seakan-akan sang baginda hadir di tengah stadion untuk memberikan bimbingan dan pertolongan kepada umatnya.
Tipe tindakan sosial yang diberikan weber adalah tradisional. Tindakan sudah selayaknya dilakukan manusia tanpa mempertimbangkan sesuatu itu rasional atau tidak. Sebab, doa bersama sudah dilakukan sejak turun temurun. Mari merayakan 1 abad NU. (*)
Penulis adalah Ketua PC ISNU Kabupaten Blitar
















