Kediri – Anggota Komisi VIII DPR RI, KH. An’im Falachuddin Markus, M.Pd., menekankan pentingnya profesionalisme tata kelola madrasah yang dibarengi dengan penguatan karakter Islam guna menghadapi tantangan global. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Ngopi (Ngobrol Pendidikan Islam) bertema “Tata Kelola Madrasah Menuju Pendidikan Islam Berdaya Saing Global” yang digelar di Hotel Lotus Garden, Kediri, Minggu (14/12/2025).
Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Gus An’im itu menyampaikan bahwa madrasah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pesatnya perkembangan teknologi, tuntutan kompetensi abad ke-21, hingga keterbatasan sumber daya manusia dan sarana pendukung pendidikan.
“Dulu simbolnya otaknya Jerman, hatinya Mekah. Sekarang dunia sudah berubah. Cina juga unggul dalam ilmu dan teknologi. Maka muncul simbol baru: otaknya Amerika, hatinya Mekah, dan cita-citanya Cina dalam hal kemajuan ekonomi,” ujar Gus An’im.
Menurutnya, madrasah harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta komunikatif, tanpa kehilangan identitas keislaman. Nilai-nilai moral dan spiritual, kata dia, tetap harus menjadi fondasi utama pendidikan Islam.
Selain kualitas lulusan, Gus An’im juga menyoroti persoalan kesejahteraan guru madrasah. Ia menilai istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” sudah tidak relevan jika kesejahteraan guru masih diabaikan.
“Sudah saatnya guru disebut sebagai pahlawan dengan jasa yang banyak. Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas gurunya,” tegasnya.
Ia mencontohkan sejarah Jepang pascaperang, ketika kaisar lebih memprioritaskan keberadaan guru sebagai kunci kebangkitan bangsa. Dalam kesempatan itu, Gus An’im juga menyampaikan bahwa Komisi VIII DPR RI telah mendorong penyelesaian pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) di lingkungan Kementerian Agama yang sebelumnya sempat tertunda selama bertahun-tahun.
Sementara itu, narasumber lain, Dr. Sutopo, M.Pd., Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, menegaskan bahwa madrasah bukanlah lembaga pendidikan masa lalu, melainkan institusi masa depan.
“Madrasah adalah tempat lahirnya generasi berilmu dan berakhlak. Tetapi kita tidak ingin lulusan madrasah hanya berakhlak tanpa daya saing. Madrasah harus menjadi pusat inovasi dan kreativitas,” ujarnya.
Dr. Sutopo menjelaskan, terdapat tiga indikator utama agar madrasah mampu bersaing secara global. Pertama, dikelola dengan sistem yang profesional dan akuntabel. Kedua, memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran serta memiliki literasi digital yang baik. Ketiga, membangun kolaborasi dengan dunia industri, perguruan tinggi, dan masyarakat, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Kegiatan Ngopi Pendidikan Islam ini diharapkan menjadi ruang dialog dan sinergi antara pemangku kebijakan, akademisi, dan praktisi pendidikan dalam mewujudkan madrasah yang berkarakter, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kemajuan pendidikan nasional.















