Oleh : Dr A. Hakam Sholahuddin
Dulu, saya termasuk salah satu dari sekian orang yang nggak mau kepo terhadap status whatsaap. Nggak suka buka – buka story orang. Memang kenapa? Ya malas saja. Selain saya juga jarang memposting foto kegiatan yang penuh nada tudingan narsis, pencitraan atau bahkan sampai dikatakan pamer. Namun lama kelamaan hidup harus bersosialisasi di ruang publik maya. Posting status sebagai pesan tanda bahwa kita masih ada.
Ya, di handphone saya terdapat nama kontak 3.500 lebih nomor yang tersimpan. Dan, yang memilih bermadzab seperti saya yang malas memposting status tidaklah banyak. Mungkin satu atau dua orang tidak pernah meng-up date status. Kalau pun memposting baru beberapa jam kemudian sudah dihapus. Bagi orang yang memilih jalur seperti ini berkeyakinan bahwa tidak semua kabar hidup dilaporkan ke teman kontak. Diumumkan agar orang lain tahu tentang gerak-gerik segala aktivitas. Baginya hidupnya tidak mau terkekang harus lapor ke ruang publik. Tapi ada nada guyon sambil berseloroh paling tidak dengan memposting status akan diketahui kalau kita masih hidup hehe.
Nah, dalam pandangan Jean Baudrillard, manusia di era digitalisasi dan gebyar artificial intelligence (AI) bahwa hidup tidak lagi dalam realitas apa adanya. melainkan dalam simulasi tiruan-tiruan realitas. Tiruan realitas tersebut terus diulang hingga terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Status whatsapp adalah salah satu ruang kecil tempat simulasi itu bekerja dengan sangat halus.
Ketika seseorang membuat status, sering kali yang ditampilkan bukan dirinya, melainkan versi yang ingin dilihat orang lain. Status bukan sekadar kabar, melainkan tanda alias sign. Bahwa ada senyum, tawa, sedih, religius, saleh, berani, bahkan marah itu semuanya dikemas sebagai simbol, bukan sebagai pengalaman utuh manusia nyata.
Bagi Baudrillard, tanda-tanda ini tidak lagi merujuk pada realitas asli. Yakni kesalehan yang tampak lebih saleh dari ibadah asli. Kesedihan yang ditampilkan lebih dramatis dari luka sebenarnya. Bahkan kebahagiaan yang dilihat lebih bahagia dari hidup itu sendiri.
Dari sini, karakter si pembuat status bisa dibaca bukan mereka jujur atau berbohong, tetapi pola tiruan yang ingin dibangun.
Ada yang rajin mengunggah status religius seperti tulisan doa bermunajat yang menyentuh hati atau sedang beribadah bahkan aktivitas di tanah suci. Status tersebut bukan karena sedang dekat dengan Tuhan, tetapi karena identitas saleh itu perlu terus diproduksi agar tetap dipercaya.
Ada yang sering menampilkan penderitaan, bukan untuk meminta tolong, melainkan agar eksistensinya diakui lewat empati digital.
Ada pula yang selalu tampak santai dan bijak, karena dalam dunia simulasi, tenang adalah mata uang simbolik.
Nah, dalam logika Baudrillard, orang seperti ini bukan sedang berbohong. Mereka hanya terjebak dalam permainan tanda atau simbol. Bahwa status bukan lagi cermin diri, melainkan panggung eksistensi. Yang penting bukan kita sedang apa, tetapi kita terlihat sebagai siapa.
Ironisnya, semakin sering seseorang memproduksi status, bisa semakin kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Hidup dibangun untuk menjaga citra. Tidak lagi bertanya, apa yang kurasakan? melainkan status apa yang pantas dari perasaan ini?.
Baudrillard akan mengatakan bahwa di titik ini, manusia tidak lagi mengunggah hidupnya ke whatsapp, tetapi menyerahkan hidupnya pada whatsapp.
Maka, mungkin karakter paling jujur di era simulasi ini adalah mereka yang jarang membuat status. Bukan karena tak punya cerita, tetapi karena hidupnya belum perlu dijadikan tanda.
Dalam teori Baudrillard, tanda adalah sesuatu yang tidak lagi menunjuk pada realitas asli, melainkan menciptakan realitasnya sendiri.
Tanda bukan penunjuk kenyataan, tapi pengganti kenyataan. Status whatsapp bukan laporan keadaan diri melainkan produksi citra diri. Yang dipentingkan bukan apa yang sungguh terjadi, tetapi apa yang tampak dan dibaca orang. Bukan begitu? (*)
Penulis adalah Ketua PC ISNU Kabupaten Blitar.
















