Oleh : Dr H.A. Hakam Sholahuddin
Di sudut kamar, kadang bertanya dalam sunyi. Mengapa jalan hidup membawa saya ke kampus UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Apalagi zig-zag profesi pernah saya jalani. Selama 14 tahun menjadi jurnalis hingga menjabat General Manajer (GM) Jawa Pos Radar Tulungagung. Kemudian menjadi pengawas pemilu sebagai Ketua Bawaslu Kabupaten Blitar.
Kemudian, akhirnya bersandar di dunia akademis. Yakni dunia tentang tumpukan buku, penelitian, dan berdialektika tentang humaniora dan keagamaan.
Kampus ini memang nggak asing lagi, saat masih bernama STAIN. Sebab, dulu menjadi tempat hunting berita ketika masih menjadi jurnalis di Jawa Pos Radar Tulungagung. Kini pertanyaan dalam diam itu terjawab. Dan, jawaban menjadi dosen tidak lahir dari keputusan besar saat dewasa. Justru berakar jauh, pada bacaan-bacaan sunyi di masa kecil.
Ya, bacaan itu adalah majalah Mimbar Pembangunan Agama (MPA). Majalah ini milik Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur. Kok sudah kenal dengan MPA? Itu tak lain karena saya berasal dari keluarga besar departemen agama (Depag), kini Kemenag.
Bapak saya seorang PNS yg ditempatkan sebagai kepala madrasah ibtidaiyah (MI) di desa terpencil di Kabupaten Bojonegoro. Yakni Desa Cengungklung, Kecamatan Kalitidu. Setiap awal bulan saat ambil gajian, bapak selalu membawa pulang majalah MPA. Dengan naik motor Honda ulung 75, majalah itu dijepit tali kolor di atas sadel.
Saat itu saya masih sekolah SMP/SMA era 90-an dan MPA menjadi santapan bacaan di tengah harga koran yang tidak mampu terbeli. Majalah yang ditumpuk mungkin setinggi semeter itu sudah pernah saya baca. Meski MPA bukan bacaan anak-anak, tapi ada ketertarikan rubrik yag disajikan. Ternyata dari bacaan itu tidak saya sadari membawa pengaruh luar biasa dalam.beragama.
Isi majalah MPA bukan menyuapi pikiran, melainkan mengajak berpikir. Rubrik yang paling tak gemari dan tidak pernah terlewatkan adalah Tamaddun. Rubrik ini langsung diasuh oleh Mahmud Suyuti. Pria asli Ponorogo itu menjabat Kepala Kanwil Depag Jatim. Tamaddun. Tulisannya riang, ringan, reflektif dan kontemplatif dalam beragama. Dimana tidak berdakwah dengan cara menggurui.
Di usia belia, saya mungkin belum memahami seluruh isinya, tetapi bahasa dan nadanya tertanam. Bahwa agama itu tenang, reflektif, dan tidak gaduh.
Dari masa keemasan majalah itu, saya belajar satu hal penting sejak dini. Beragama tidak harus keras untuk menjadi benar. Ada cara beriman yang santun. Ada cara berpikir yang jernih. Ada jalan intelektual yang tetap bersandar pada akhlak. Kesadaran inilah yang tanpa saya sadari menjadi fondasi pilihan hidup akademik.
Menjadi dosen UIN bukan semata profesi, tetapi kelanjutan dari etos membaca yang dibentuk sejak awal. Apalagi di kampus Islam negeri, seorang dosen dituntut bukan hanya mengajar saja. Tapi menjembatani teks dan konteks, wahyu dan realitas. Iman dan ilmu. Spirit ini persis seperti yang saya temukan dulu di halaman-halaman MPA. Agama yang berdialog dengan zaman, bukan memunggunginya.
Tamaddun benar-benar rubrik idola. Setelah Mahmud Suyuti tiada dan kemudian diteruskan Zainuddin Maliki, saya masih menyukainya. Meski corak konten yang disajikan antara Mahmud Suyuti dan Zainuddin Maliki memiliki kekhasan masing-masing. Keduanya mengajarkan bahwa pemikiran keagamaan tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari kedalaman baca dan kejernihan nalar.
Kini, ketika berdiri di depan mahasiswa, saya mengerti bahwa bacaan masa kecil bukan sekadar nostalgia. Bacaan itu adalah arsitektur batin. Buku, majalah, dan tulisan yang kita baca di usia awal akan menentukan, apakah kita tumbuh menjadi pribadi yang reaktif, atau reflektif, dogmatis, atau dialogis. Nah, jika hari ini ada dosen UIN yang memilih jalan moderasi, keterbukaan, dan kedalaman, sudah pasti di masa kecilnya, pernah membaca bacaan yang memuliakan akal dan adab.
Dan di situlah saya percaya bahwa peradaban tidak dibangun hanya oleh gedung kampus, tetapi oleh bacaan yang membentuk cara berpikir sejak dini.
Ya, saya berasal dari keluarga besar Kemenag. Bapak yang PNS Depag, dilanjutkan kakak saya yang sudah lama menjadi guru di MTSN 2 Bojonegoro. Jadi setiap tanggal 3 Januari hari amal bakti sudah mengena sejak belia. Dan hari ini, 3 Januari 2026, saya menjadi bagian dari UIN Tulungagung, berada di bawah Kemenag RI. Selamat merayakan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80. (*)
Penulis adalah tenaga pengajar di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (FASIH) UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.















