Kediri, kabarutama – Tim survei lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melakukan kunjungan resmi ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jumat (5/7), untuk meninjau kesiapan pesantren tersebut sebagai calon tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Rombongan tim survei terdiri atas KH Abdul Ghafur Maimoen, KH Muhibul Aman Aly, Imron Rosyadi Hamid, Nasrullah (Staf PBNU), dan Taufiq (PWNU). Kehadiran mereka disambut oleh jajaran pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, yakni KH Adibusholeh Anwar, KH Aminulloh Mahin, KH Athoillah Anwar, beserta para pengurus pondok.
Juru Bicara Pondok Pesantren Lirboyo, HM Abdul Mu’id Shohib, mengatakan pihaknya memaparkan secara menyeluruh berbagai aspek kesiapan pondok dalam mendukung penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
Menurutnya, Lirboyo memiliki akses transportasi yang memadai melalui Bandara Dhoho Kediri, Bandara Juanda Surabaya, jaringan stasiun kereta api, serta terminal. Selain itu, tersedia area parkir yang luas, ruang sidang yang representatif, akomodasi yang mencukupi baik di lingkungan pondok maupun hotel di sekitar lokasi, sistem keamanan berbasis CCTV, serta layanan kesehatan yang didukung Rumah Sakit Umum Lirboyo dan sejumlah rumah sakit rujukan di sekitarnya.
“Hasil peninjauan langsung menunjukkan bahwa berbagai kebutuhan teknis penyelenggaraan Muktamar telah dapat dipenuhi dengan sangat baik oleh Pondok Pesantren Lirboyo,” ujar HM Abdul Mu’id Shohib.
Dalam kesempatan tersebut, KH Muhibul Aman Aly yang mewakili tim survei PBNU menyampaikan apresiasi atas kesiapan yang ditunjukkan Pondok Pesantren Lirboyo.
“Pada intinya, secara umum Lirboyo sangat siap. Semua sarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Muktamar sudah terpenuhi dengan sempurna,” katanya.
HM Abdul Mu’id Shohib menambahkan, Pondok Pesantren Lirboyo yang pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU pada 1999 berkomitmen memberikan dukungan terbaik apabila kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Komitmen tersebut, lanjutnya, diwujudkan untuk memastikan forum permusyawaratan tertinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama dapat berlangsung dengan lancar, tertib, aman, dan khidmat.
















