Bengkulu – Masyarakat Bengkulu dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, kerukunan, dan kebersamaan. Filosofi hidup mereka sederhana, namun sarat makna. Nilai-nilai luhur tersebut bahkan diabadikan dalam lirik lagu daerah Bengkulu Selatan berjudul Sekundang Setungguan.
Harmoni sosial telah melekat menjadi karakter masyarakat Bengkulu. Mereka mengedepankan persahabatan hingga terjalin ikatan kekeluargaan yang erat. Beban yang berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama-sama. Solidaritas menjadi kunci stabilitas sosial melalui semangat saling mendukung dan membantu dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Fenomena sosial inilah yang ingin dilihat dan dipahami oleh KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dari keberadaan jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Bumi Rafflesia. Sebab, Nahdlatul Ulama telah menyatu dengan masyarakat Bengkulu selama lebih dari enam dekade. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa kontribusi yang dapat diberikan NU untuk membangun masa depan Bengkulu?
Pada Sabtu, 6 Juni 2026, Gus Salam bersama para masyayikh dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, melakukan silaturahmi dengan PWNU dan PCNU se-Provinsi Bengkulu. Kegiatan diawali dengan silaturahmi bersama Katib PWNU Bengkulu, KH Aly Shodiq Ahmad, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan bersama Rais dan Ketua PWNU Bengkulu, KH Hasbullah Achmad dan Prof. Dr. KH Khairudin Wahid, M.Ag.
Ditemui di lobi Hotel Mercure, Ratu Samban, Kota Bengkulu, sebelum forum silaturahmi dimulai, Gus Salam mengungkapkan rasa senangnya dapat berkunjung ke Bengkulu. Ia mengaku ingin merasakan kehangatan bertemu dengan saudara-saudara pengurus NU dari seluruh wilayah Bengkulu.
“Alhamdulillah, setelah dari Makassar kemarin, shalat Jumat di sana dan menikmati Coto Makassar, saat ini saya ingin merasakan nikmatnya pendap dan kue lepek binti khas Bengkulu,” ujar Gus Salam sambil tersenyum.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diterimanya.
“Tadi kami dijamu makan oleh KH Aly Shodiq Ahmad, Katib PWNU Bengkulu, di kediaman beliau. Ini merupakan kehormatan bagi kami dapat makan bersama keluarga beliau di Pesantren Hidayatul Qomariyah,” tambahnya.
Forum silaturahmi yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut dihadiri oleh Ketua PWNU Bengkulu serta para ketua dan rais PCNU se-Provinsi Bengkulu.
Dalam paparannya setelah forum berlangsung, Gus Salam menyampaikan rasa salut dan apresiasinya terhadap semangat para pengurus NU se-Bengkulu. Menurutnya, kehadiran pengurus dari daerah yang jauh, seperti PCNU Mukomuko, menunjukkan bahwa perjuangan mengurus jam’iyyah NU dilakukan dengan pengorbanan lahir dan batin.
“Kekompakan dan soliditas pengurus NU dari PWNU maupun PCNU se-Bengkulu dapat menjadi inspirasi sekaligus teladan bagi PBNU maupun PWNU di daerah lain dalam mengelola organisasi,” ujarnya.
Ia juga menilai semangat dan komitmen pengurus NU di Bengkulu dalam meningkatkan pelayanan kepada nahdliyyin dan masyarakat sangat tinggi. Selain itu, Bengkulu memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan karena letaknya yang berada di kawasan Bukit Barisan dan pesisir Samudera Hindia.
“Karena itu, kemajuan NU di Bengkulu membutuhkan keseriusan PBNU untuk memfasilitasi, mendampingi, dan menguatkan berbagai inisiatif pengabdian pengurus jam’iyyah kepada masyarakat berbasis kearifan lokal dan potensi daerah,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, sejumlah pengurus PCNU turut menyampaikan pandangan dan catatan terkait dinamika organisasi, khususnya di tingkat PBNU. Mereka berharap PBNU ke depan dikelola oleh sosok-sosok yang memiliki semangat pengabdian, berkomitmen membesarkan jam’iyyah dan melayani warga jamaah secara total.
Dr. KH Mabrursyah dari PCNU Rejang Lebong, misalnya, menyoroti banyaknya kepengurusan caretaker yang dibentuk oleh PBNU. Menurutnya, kondisi tersebut kurang menghadirkan keteduhan dalam berorganisasi dan berpotensi membatasi ruang nalar kritis dalam berjam’iyyah.
Selain itu, isu politik dan pertambangan yang dinilai belum sepenuhnya membawa kemaslahatan umat juga mengemuka dalam diskusi. Dr. KH Syafrullah dari PCNU Kepahiang menilai bahwa berbagai upaya pelemahan terhadap NU masih terus terjadi. Karena itu, ia berpandangan bahwa NU ke depan membutuhkan pemimpin yang benar-benar tulus berkhidmah, bukan yang terjebak pada pragmatisme politik.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Gus Salam mengaku memahami keresahan dan harapan yang disampaikan para pengurus NU di Bengkulu. Menurutnya, aspirasi serupa juga dirasakan oleh banyak nahdliyyin di berbagai daerah.
“Karena itu, kekompakan dan soliditas NU Bengkulu dapat menjadi pelopor. Dari Bengkulu lahir semangat untuk menghadirkan PBNU yang semakin solid, berintegritas, dan tulus melayani demi kemaslahatan umat, masyarakat, serta bangsa dan negara,” pungkas Gus Salam.















