Kediri – Kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di kawasan lereng Gunung Kelud terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Hal ini terlihat dalam kegiatan silaturahmi dan riyayan yang digelar komunitas Jangkar Kelud di wisata Ragil Kuning, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang temu relawan, tetapi juga diisi dengan edukasi kebencanaan, reboisasi, serta tabur benih ikan nila sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Koordinator Jangkar Kelud, Catur Sudarmanto, mengatakan peran masyarakat sangat penting dalam penanggulangan bencana. Ia mencontohkan keberhasilan evakuasi saat Erupsi Gunung Kelud 2014 sebagai hasil dari edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Ketika erupsi terjadi, masyarakat mampu melakukan evakuasi mandiri. Itu tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses edukasi dan pendampingan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanggulangan bencana harus melibatkan berbagai pihak dalam konsep pentahelix, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi hingga media.
“Tidak ada yang paling dominan. Semua punya peran penting dalam mitigasi bencana,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Pencegahan BPBD Jawa Timur, Dadang Iqwandy, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang.
“Kemarau tahun ini bisa mencapai hingga 24 dasarian. Masyarakat harus saling menjaga karena hampir 90 persen kebakaran hutan dan lahan disebabkan oleh aktivitas manusia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Kelud yang memiliki siklus erupsi tertentu.
“Kesiapsiagaan harus terus dibangun, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, menambahkan bahwa potensi wisata di lereng Kelud perlu dikembangkan secara bijak dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan.
“Wisata alam memiliki potensi besar, namun harus didukung fasilitas memadai serta kesadaran terhadap kebersihan dan mitigasi risiko,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat menerapkan konsep sadar wisata, termasuk pengelolaan sampah secara bijak sebagai bagian dari keberlanjutan lingkungan.
Melalui kegiatan ini, sinergi antara masyarakat dan pemerintah diharapkan semakin kuat dalam menghadapi berbagai potensi bencana, baik yang bersifat alam maupun nonalam.
















