Kediri — Memasuki tahun pertama periode keduanya, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mulai merealisasikan 17 program prioritas yang sebelumnya dijanjikan kepada masyarakat. Sejumlah program disebut telah berjalan secara bertahap sepanjang 2025.
Di bidang pertanian, program “Pupuk Tersedia, Petani Bahagia” direalisasikan melalui tambahan alokasi pupuk bersubsidi pada 2025. Pemerintah daerah menyatakan langkah ini dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.
Sektor kesehatan menjadi salah satu fokus utama. Pemerintah Kabupaten Kediri mencatat capaian Universal Health Coverage (UHC) sebesar 98,72 persen pada 2025. Selain itu, terdapat penambahan enam Puskesmas rawat inap sepanjang tahun tersebut, sehingga hingga Februari 2026 total menjadi 13 Puskesmas rawat inap di Kabupaten Kediri.
Terkait rencana pembangunan rumah sakit di kawasan Aerotropolis, Hanindhito mengakui adanya keterbatasan fiskal daerah akibat kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat. Untuk itu, pihaknya membuka peluang kerja sama dengan swasta.
“Yang kita lakukan adalah komunikasi dengan beberapa rumah sakit, ada tiga rumah sakit,” ujarnya.
Pada bidang pendidikan dan keagamaan, pemerintah daerah menyalurkan insentif kepada sekitar 17 ribu guru dan tenaga kependidikan, termasuk guru ngaji dan guru agama. Pada 2025, penerima bisyaroh mencapai 9.500 orang dan direncanakan meningkat menjadi 12.000 orang pada 2026.
Program Beasiswa Kediri Berbudaya dengan alokasi Rp30 miliar per tahun juga tetap berjalan. Selain itu, bantuan stimulus diberikan untuk fasilitas mushola, masjid, pondok pesantren, serta lembaga pendidikan keagamaan.
Di sektor pemerintahan dan sosial, sejumlah program telah direalisasikan, antara lain peningkatan insentif kader posyandu dan KB, kenaikan insentif RT/RW, layanan pengaduan Halo Masbup 2.0, Gercep Sahaja untuk administrasi kependudukan, serta peningkatan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK).
Sementara itu, target penciptaan 30.000 lapangan kerja baru mulai dijalankan pada 2025 dengan realisasi lebih dari 6.000 lapangan kerja. Program tersebut akan dilanjutkan secara bertahap pada tahun berikutnya.
Pada sektor perdagangan, pemerintah melanjutkan revitalisasi pasar tradisional. Setelah Pasar Wates, kini revitalisasi dilakukan di Pasar Ngadiluwih.
Di bidang pariwisata, wisata Ubalan dibuka kembali pada akhir 2025. Untuk 2026, pemerintah menargetkan penyelesaian akses jalan hingga kawah Gunung Kelud, termasuk peningkatan aspek keselamatan pengunjung.
Meski demikian, Hanindhito mengakui masih ada tantangan, terutama dalam pembangunan infrastruktur jalan desa. Skema pembangunan melalui BKK dengan pelaksanaan oleh desa dinilai efektif, namun realisasinya menyesuaikan kondisi kemampuan keuangan daerah.
Pemerintah daerah menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program prioritas tersebut secara bertahap sesuai kapasitas fiskal yang tersedia.
















