BLITAR – Menyambut musim tanam tahun 2026, petani di Kabupaten Blitar mendapatkan “angin segar”. Pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar resmi mengumumkan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi dengan angka yang cukup signifikan, yakni rata-rata mencapai 20 persen. Selasa, (06/01).
Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura (STPH) DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, mengungkapkan bahwa kebijakan ini merujuk pada Keputusan Menteri Pertanian yang mulai diberlakukan secara bertahap sejak akhir 2025.
“Di Blitar, kami pastikan informasi ini tersampaikan ke seluruh kecamatan agar petani mendapatkan haknya sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Siswoyo.
Berdasarkan data resmi DKPP Kabupaten Blitar, rincian perubahan harga tersebut adalah sebagai berikut,
Pupuk Urea turun dari Rp2.250/kg menjadi Rp1.800/kg.
Pupuk NPK Phonska turun dari Rp2.300/kg menjadi Rp1.840/kg.
Pupuk ZA (khusus tebu) turun dari Rp1.700/kg menjadi Rp1.360/kg.
Selain itu, Pupuk NPK Kakao turun dari Rp3.300/kg menjadi Rp2.640/kg dan Pupuk Organik turun dari Rp800/kg menjadi Rp640/kg.
Selain penurunan harga, pemerintah juga telah menetapkan kuota pupuk yang cukup besar untuk Kabupaten Blitar sepanjang tahun 2026, yakni, Urea: 32.538.000 kg dan NPK: 39.402.000 kg.
Siswoyo menegaskan bahwa petani sudah bisa menebus pupuk subsidi tersebut mulai 1 Januari 2026. Syarat utamanya, petani harus sudah terdaftar dalam sistem e-RDKK (Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).
“Stok telah disiapkan dan sistem penyaluran dipastikan siap. Petani bisa menebusnya di kios resmi atau PPTS (Pengecer Pupuk Terdaftar Resmi) sesuai harga HET yang baru,” tegasnya.
Guna mencegah adanya permainan harga di lapangan, DKPP Blitar akan melakukan pengawasan ketat di 22 kecamatan. Fokus utama pengawasan adalah memastikan prinsip 7T (Tepat sasaran, jenis, jumlah, harga, waktu, tempat, dan mutu).
Penurunan harga ini diharapkan dapat menekan biaya produksi petani secara drastis, mengingat pupuk merupakan komponen biaya paling dominan. Dengan biaya yang lebih ringan, produktivitas pangan di Blitar, terutama padi dan jagung, diharapkan meningkat untuk mendukung swasembada pangan nasional.
















