BLITAR – Di sebuah sudut lantai 2 Pasar Legi, Kota Blitar, sebuah revolusi produktivitas sedang dirajut. Melalui pengembangan aplikasi Augmenta, sekelompok pemuda kreatif yang tergabung dalam Augmenta AI Labs berupaya menjawab tantangan transformasi tenaga kerja terbesar sejak revolusi industri.
Inisiatif ini hadir di tengah peringatan global. Laporan World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report 2025 memprediksi AI akan menciptakan 170 juta peran baru pada tahun 2030. Namun, di sisi lain, 92 juta pekerjaan berisiko tergeser. Ironisnya, survei dari EY mengungkapkan bahwa perusahaan global berisiko kehilangan hingga 40 persen potensi keuntungan produktivitas akibat kesenjangan strategi talenta dan keterampilan SDM.
Pendiri Augmenta AI Labs, Cahyo Inda Wahono, menegaskan bahwa kehadiran aplikasi Augmenta bukan sekadar penyedia teknologi, melainkan enabler ekosistem untuk mengisi celah besar tersebut (The Great Skill Gap).
“Kami melihat pertumbuhan pasar AI diproyeksikan mencapai nilai USD 1,3 triliun pada 2030. Namun, data menunjukkan bahwa meski 88 persen karyawan mulai menggunakan AI, mayoritas hanya memakainya untuk tugas dasar. Hanya 5 persen pekerja yang benar-benar mampu mengoptimalkan AI untuk transformasi alur kerja. Di sinilah Augmenta hadir untuk membawa pengguna keluar dari pemanfaatan dangkal,” ujar Cahyo di Blitar, Sabtu.
Cahyo bukan orang baru di industri kreatif. Sebagai profesional media audio visual sejak 2004 yang pernah menjabat sebagai Executive Producer dan Post Supervisor di Jakarta, ia menyadari pola yang mengkhawatirkan: teknologi melesat, namun kesiapan manusia di belakangnya tertinggal. Berbekal sertifikasi sebagai AI Engineer, Google Apps Builder, hingga Master Trainer BNSP, Cahyo merancang Augmenta AI Labs dengan kurikulum yang melampaui standar pelatihan biasa.
Keunggulan Strategis Augmenta AI Labs
Untuk memastikan efektivitas transformasi ini, Augmenta AI Labs mengusung lima pilar keunggulan yang menjadi pembeda utama dalam ekosistem digital nasional:
- Kepemimpinan Berbasis Keahlian Ganda: Dipandu langsung oleh Cahyo Inda Wahono yang mengawinkan pengalaman industri kreatif papan atas (Jakarta) dengan sertifikasi teknis mutakhir (AI Engineering & Master Trainer), memastikan materi tidak hanya teoritis tetapi sangat praktis.
- Metodologi “Gayeng-Aplikatif”: Menghilangkan hambatan psikologis terhadap teknologi tinggi melalui pendekatan workshop yang hangat dan santai (gayeng), namun tetap mempertahankan standar teknis yang ketat dan siap pakai.
- Kurikulum Transformasi Alur Kerja: Berbeda dengan pelatihan AI umum yang hanya fokus pada pembuatan konten, Augmenta mengajarkan Advanced Prompt Engineering dan integrasi sistem untuk mengotomatisasi alur kerja (workflow) yang kompleks.
- Inkubasi di Jantung Ekonomi Rakyat: Memilih lokasi di Pasar Legi Blitar bukan tanpa alasan; ini adalah simbol demokratisasi teknologi, membuktikan bahwa inovasi kelas dunia bisa lahir dan diterapkan langsung oleh UMKM di ruang publik tradisional.
- Ekosistem Talenta Terkurasi: Melalui aplikasi Augmenta, peserta tidak hanya belajar, tetapi masuk ke dalam jaringan talenta digital yang siap diserap oleh industri yang membutuhkan efisiensi berbasis AI.
Langkah ini dirasa sangat relevan mengingat data Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Kota Blitar mencatat lonjakan jumlah UMKM dari 14.734 unit pada 2023 menjadi 22.094 unit pada akhir 2024. Dengan 39 persen keterampilan kerja saat ini yang diperkirakan akan usang pada 2030, literasi AI yang aplikatif menjadi harga mati bagi keberlangsungan usaha.
Upaya mandiri dari Blitar ini juga memperkuat capaian indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Kota Blitar yang mencapai angka 3,68 pada 2024. Augmenta AI Labs membuktikan bahwa ruang publik tradisional seperti Pasar Legi dapat bertransformasi menjadi titik temu inovasi digital berskala nasional.
“Masa depan bukan tentang AI menggantikan manusia, melainkan tentang bagaimana manusia yang ‘ter-augmentasi’ oleh AI mampu menciptakan efisiensi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Dari Blitar, kami berkomitmen memanusiakan AI untuk Indonesia,” tutup Cahyo.
















