Dr H.A Hakam Sholahuddin
Begitulah khas Nahdlatul Ulama (NU), dari gegeran berubah jadi ger-ger- an. Hampir sebulan babak belur dihajar netizen gegara polemik di ujung kepengurusan mandataris muktamar Lampung, Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua umum PB NU KH Yahya Cholil Staquf saling pecat akhirnya berujung islah.
Itu setelah para masyayikh dan mustasyar turun tangan mendamaikannya di Pesantren Tebuireng Jombang, kemudian di-running di pesantren Lirboyo Kediri.
Polemik yang diisukan sebab konsesi tambang tidaklah produktif sebagai jam’iyyah diniyyah. Meski secara jamaah tidak ada pengaruh. Jamaahnya tetap berkegiatan seperti yasinan, sholawatan, lailatul ijtimak maupun rijalul ansor-an.
Aktivitas nahdiyin tidak terpengaruh atas apa yang terjadi pada elite organisasinya. Namun hubungan manajemen organisasi yang dikelola secara modern secara hirarki keorganisasian memang menimbulkan masalah dan kebingungan.
Persuratan digdaya bermasalah karena tidak bisa ditandatangani empat orang bersamaan, Rais Aam, katib aam, ketua umum dan sekretaris umum. Selain itu hubungan koordinasi terkendala antara PB NU dengan PW NU, PC NU, maupun MWC hingga ranting jadi terbelah.
Namun kemarin (28/12) jajaran PW NU Jawa Timur melakukan konsolidasi turba ke Blitar bertempat di Graha NU. Dengan dihadiri beberapa PC NU beserta lembaga dan badan otonom terdiri atas PC NU Kabupaten Blitar sebagai tuan rumah, PC NU Kota Blitar, PC NU Tulungagung dan PC NU Trenggalek.
Ketua tanfidziyah PW NU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz menampik bahwa turba ini sebagai respons dari polemik yang terjadi di PB NU. Sebab turba sudah dijalankan sejak awal kepengurusannya dan jauh hari sudah dimulai dari Banyuwangi.
Gus Kikin menekankan tentang esensi silaturahmi untuk menyelesaikan setiap permasalahan. Setelah makan-makan dan berbincang, persoalan dengan sendiri selesai tanpa pembahasan yang serius.
Sementara itu ada tausiyah yang bijak dari Wakil Rais Syuriah PW NU KH Abdul Matin Jawahir. Pengasuh Ponpes Sunan Bejagung Tuban ini menegaskan ketika ber-NU tidak akan goyah ketika memiliki himmah. Kiai Matin mengambil kisah himmah ini menurut imam Abu Bakar Asy Sybli. Imam Sybli dawuh
صَاحِبُ الْهِمَّةِ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَحْوَالُ
“Orang yang memiliki himmah tidak akan terpengaruh oleh perubahan keadaan.
Seperti kondisi dan keadaan perseteruan yang terjadi pada elite PB NU tidak akan menggoyahkan semangat para kader dan jamaah nahdliyin dalam berorganisasi dengan menjalankan Islam ahlussunnah waljamaah. Bahwa makna himmah adalah, lanjut Kiai Matin,
kekuatan tekad ruhani, fokus batin yang tinggi, dan
kesungguhan hati menuju Allah. Di sini himmah lebih dalam dari sekadar niat. Himmah adalah energi batin yang menggerakkan istiqamah. Sehingga dawuh Asy-Syiblī ini seseorang tidak dikendalikan oleh situasi. Orang yang punya himmah tidak melemah saat susah, tidak lengah saat lapang, dan tidak berubah karena pujian atau cacian. Orientasinya adalah tujuan, bukan keadaan. Sebab keadaan (ahwāl) selalu berubah, tapi orang berhimmah tujuannya jelas,
jalannya lurus, hatinya tidak terombang-ambing. Himmah lahir dari ma‘rifat karena tahu bahwa
semua keadaan berasal dari Allah
maka yang ia jaga bukan situasi, tapi kedekatan dengan-Nya.
Situasi boleh berubah, tetapi arah hidup tidak.
Itulah tanda orang yang memiliki himmah. Seperti di tengah kegaduhan dinamika keorganisasian NU pengurus maupun umat yang tanpa himmah akan bersikap reaktif. Sedang orang berhimmah akan responsif dan bijak.
Selain itu, kiai asal Semanding Tuban ini mengisahkan tentang Imam Ma’ruf Al Karkhi dan sampan. Suatu hari Imam Ma‘rūf al-Karkhī menaiki sampan kecil untuk menyeberangi sungai Tigris di Baghdad.
Di dalam sampan itu ada beberapa orang pemuda yang sibuk bercanda, bernyanyi, dan bercakap hal sia-sia, bahkan sebagian menyebut-nyebut perkara maksiat.
Sebagian orang yang bersama Imam Ma‘rūf merasa terganggu dan cemas, lalu berkata: “Wahai Imam, tidakkah engkau melihat perbuatan mereka? Para muridnya memohon agar gurunya berdoa kepada Allah agar sampan ini terbalik, supaya mereka kapok.”
Mendengar itu, Imam Ma‘rūf al-Karkhī mengangkat tangannya dan berdoa:
اللَّهُمَّ كَمَا فَرَّحْتَهُمْ فِي الدُّنْيَا فَفَرِّحْهُمْ فِي الْآخِرَةِ
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menggembirakan mereka di dunia, maka gembirakanlah mereka pula di akhirat.”
Para murid imam ma’ruf Al karkhi terkejut dan berkata:
“Wahai Imam, bagaimana mungkin engkau mendoakan demikian untuk orang-orang seperti mereka?”
Imam Ma‘rūf menjawab dengan tenang:
“Kegembiraan mereka di akhirat tidak akan terjadi kecuali dengan taubat. Dan taubat itu lebih aku cintai daripada kebinasaan mereka.”
Akhirnya orang-orang yang berpesta pora itu menyampaikan kepada Imam Ma”ruf berkeinginan bertaubat kepada Allah. Begitulah para kekasih Allah lebih mengutamakan
rahmat daripada murka. Beliau tidak senang melihat kebinasaan manusia, tetapi berharap keselamatan mereka.
Tidak reaktif terhadap kemaksiatan
Ma‘rūf al-Karkhī tidak menghakimi dengan emosi, melainkan menyerahkan hidayah kepada Allah.
Dakwah dengan doa dan kasih sayang. Hidayah sering lahir dari doa orang saleh, bukan dari kutukan. Inilah teladan para masyayikh kita menyelesaikan polemik PB NU. Bukan begitu?
Penulis adalah anggota Syuriah ranting NU Karangbendo Ponggok.
















