Kediri — Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kediri resmi memulai langkah strategis untuk periode 2026–2029. Dipimpin oleh Hari Wahyu Djatmiko, forum ini langsung tancap gas menyusun landasan organisasi sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Kediri.
Langkah awal tersebut dibahas dalam pertemuan perdana pascapengukuhan FPRB yang difasilitasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Dalam kesempatan itu, Hari Wahyu Djatmiko menekankan pentingnya sinergi antara relawan, pemerintah, dan masyarakat sebagai kunci utama pengurangan risiko bencana.
Agenda utama pertemuan kali ini adalah pembahasan Statuta serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. Menurut Hari, landasan hukum yang kuat sangat dibutuhkan agar FPRB memiliki arah gerak yang jelas dan berkelanjutan.
“Hari ini kami fokus membahas statuta dan ketetapan kepengurusan. Tujuannya agar ke depan FPRB memiliki landasan yang kuat dalam melaksanakan program-program pengurangan risiko bencana bagi masyarakat Kabupaten Kediri,” ujarnya usai pertemuan di Ruang Pertemuan Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Kamis (5/2/2026).
Ke depan, FPRB diproyeksikan menjadi mitra strategis BPBD Kabupaten Kediri, khususnya dalam pemetaan potensi bencana serta penyusunan langkah mitigasi dan penanganannya. Hari juga mengapresiasi dukungan penuh BPBD yang telah memfasilitasi proses pembentukan hingga pelaksanaan kegiatan forum.
FPRB berencana menggelar pertemuan rutin minimal satu kali setiap bulan. Forum ini diharapkan menjadi wadah perumusan gagasan dan strategi mitigasi bencana, dengan fokus pada upaya preventif sebelum bencana terjadi.
“Kami ingin berada di baris depan dalam berpikir dan bertindak terkait mitigasi bencana. Apa yang berpotensi terjadi harus kita antisipasi bersama sejak dini,” tambahnya.
Waspada Cuaca Ekstrem
Di tengah kondisi cuaca yang kian sulit diprediksi, Hari Wahyu Djatmiko juga mengimbau masyarakat Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menyoroti potensi bencana hidrometeorologi yang dapat muncul akibat cuaca ekstrem.
“Masyarakat harus lebih waspada karena cuaca ekstrem saat ini sering memicu kerawanan bencana. Inilah peran FPRB untuk mengedukasi dan mendampingi masyarakat agar lebih siap dan tangguh menghadapi bencana,” tegasnya.
















