Surabaya — LDII Jawa Timur menggandeng Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menggelar Sosialisasi Berkurban Sehat dan Halal menjelang Idul Adha 1447 Hijriah. Kegiatan berlangsung di Gedung Serba Guna Sabilurrosyiddin, Surabaya, Sabtu (23/5).
Sosialisasi tersebut menekankan pentingnya penerapan prinsip ASUH, yakni Aman, Sehat, Utuh, dan Halal, dalam pelaksanaan kurban. Kegiatan itu diikuti panitia kurban dan juru sembelih halal (Juleha) dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, mengatakan penyembelihan halal tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga bagian dari pelaksanaan syariat Islam.
“Halal berarti sesuai syariat, sedangkan baik berarti sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat,” ujarnya dalam sambutan.
Menurut Amrodji, konsep halalan thayyiban harus dipahami secara menyeluruh. Karena itu, pelaksanaan kurban tidak cukup hanya memenuhi syariat, tetapi juga harus memperhatikan aspek kesehatan dan keamanan pangan.
Ia menambahkan, warga LDII umumnya telah memahami kriteria hewan kurban sesuai syariat. Namun, untuk memastikan kesehatan hewan diperlukan pendampingan dari Dinas Peternakan, sedangkan aspek sertifikasi halal menjadi kewenangan BPJPH.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan narasumber dari JULEHA Jawa Timur dan Forum Komunikasi Kesehatan Islam Indonesia (FKKI). Keterlibatan berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai tata cara penyembelihan yang sesuai syariat dan standar kesehatan.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Jawa Timur, Iswahyudi, mengingatkan pentingnya pengawasan dalam proses penyembelihan hewan kurban untuk mencegah penyebaran penyakit.
Menurut dia, Dinas Peternakan Jawa Timur menyiapkan lebih dari 5.000 petugas kesehatan hewan selama momentum Idul Adha tahun ini. Petugas terdiri atas dokter hewan, paramedik veteriner, dan tenaga teknis yang akan diterjunkan di berbagai daerah.
“Semua kami libatkan agar pelaksanaan kurban tahun ini bisa berjalan baik, sehat, dan aman,” katanya.
Selain pengawasan lapangan, Dinas Peternakan juga melakukan pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem terhadap hewan kurban guna memastikan hewan sehat dan daging aman dikonsumsi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Iswahyudi juga menyoroti pentingnya keberadaan Juru Sembelih Halal (Juleha). Ia menilai profesi tersebut membutuhkan kompetensi khusus sehingga calon Juleha harus mengikuti pelatihan dan sertifikasi resmi.
Hingga 2025, jumlah Juleha bersertifikat di Jawa Timur tercatat hampir mencapai 2.000 orang. Dinas Peternakan berharap sosialisasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan kurban yang memenuhi syariat, standar kesehatan, dan ketentuan hukum.














