Kediri — Momentum Hari Raya dimanfaatkan untuk memperkuat ukhuwah dan saling memaafkan melalui kegiatan sosialisasi bersama anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, yang digelar di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri, yang berada di Jalan Pamenang No. 58A, Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem. Kegiatan ini dihadiri sekitar 100 guru RA dan TK, serta awak media Kediri Raya.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, Dapil VIII Komisi B, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran guru sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter anak.
Ia menyampaikan bahwa kualitas masa depan anak sangat bergantung pada bagaimana guru menanamkan nilai dan membimbing siswa. Selain itu, ia juga menyoroti peran media sebagai fungsi kontrol sosial dan pembangunan.
“Kami mengajak para guru dan insan media untuk bersilaturahmi sekaligus mendengarkan aspirasi, terutama terkait kondisi guru saat ini,” ujarnya, Senin (30/3/2026) sore.
Dalam kesempatan tersebut, Hadi juga menyoroti persoalan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer yang dinilai masih jauh dari layak. Ia mengungkapkan masih adanya guru yang menerima honor sangat minim, bahkan sekitar Rp150 ribu.
“Di satu sisi mereka adalah fondasi pembentukan karakter generasi bangsa, namun di sisi lain kesejahteraannya masih sangat memprihatinkan,” katanya.
Ia berkomitmen untuk membawa permasalahan tersebut ke tingkat provinsi, khususnya ke Komisi E DPRD Jawa Timur, guna memperjuangkan peningkatan kesejahteraan guru, termasuk percepatan sertifikasi bagi guru RA dan TK.
Selain itu, pihaknya juga akan mengupayakan dukungan anggaran serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk membantu kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.
Sementara itu, salah satu peserta, Sumiatin Hasanah dari Omah Stimulasi PKBM Krisna, menyampaikan pengalaman dan tantangan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Ia menjelaskan bahwa saat ini dirinya menangani 12 siswa dengan 5 tenaga pengajar. Proses pembelajaran membutuhkan kesabaran ekstra karena setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda.
“Untuk mengajarkan hal sederhana saja bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama. Selama ini, lembaganya belum mendapatkan bantuan dan masih mengandalkan iuran orang tua yang tidak menentu, bahkan sebagian siswa dibebaskan biaya.
“Kami sangat membutuhkan alat permainan edukatif dan alat terapi yang memadai agar anak-anak bisa mendapatkan penanganan yang lebih optimal,” katanya.
Adapun anak-anak yang ditangani memiliki beragam kondisi seperti Down Syndrome, ADHD, autisme, hingga keterbatasan intelektual.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi anak usia dini dan anak berkebutuhan khusus.
















